RAYUAN SEDERHANA
Sebenarnya kejadian ini sudah terjadi selama enam tahun yang
lalu. Kenapa aku menceritakannya kembali? Aku teringat curhatan adikku dan pada
saat aku membaca buku How to Win Friends
and Influence People karangan Dale
Camegle. Di dalam bukunya terdapat dua paragraph yang membuat aku tertawa
kecil padahal sama sekali tidak lucu dan sang penulis juga tidak bermaksud
untuk melucu.
“Mengapa harus membicarakan tentang
apa yang kau inginkan? Itu kekanakan. Absurd. Tentu saja. Anda berminat dengan
hal-hal yang Anda inginkan. Anda akan selamanya berminat terhadap hal itu. Tapi
tak seorang lain pun yang berminat. Kita semua persis seperti anda : kita
berminat terhadap apa yang kita inginkan.
Jadi, satu-satunya cara di bumi ini
untuk mempengaruhi orang lain adalah berbicara tentang apa yang mereka inginkan dan tunjukkan kepada
mereka bagaimana memperolehnya”
Dulu aku memilih SMP disalah satu sekolah berasrama atau
lebih tepatnya pesantren. Tidak ada yang membujukku waktu itu karena pada saat
sekolah dasar aku cukup bosan dibanding-bandingkan dengan kakakku yang berbeda
enam tahun. Dari situ aku berniat untuk memilih sekolah yang berbeda dengan
kakakku. Bagaimana pun caranya.
Ah! Aku lebih suka menyebutnya sekolah berasrama mungkin
karena nilai-nilai pesantren di dalam diriku berkurang hahahahaha. Tapi toh
nama sekolahku pun Babussalam Boarding School (read. BBS).
Setelah aku lulus dari sekolah asrama itu aku memilih untuk
melanjutkan sekolah di salah satu SMA negri di Bandung. Perbedaan tiga tahun
membuat adikku harus memilih sekolah SMP yang sesuai dengan nilainya. Melihat
peningkatanku dalam belajar (mungkin) kedua orangku memutuskan untuk
menyekolahkan adikku disekolah yang sama.
Pesantren, berasrama, peraturan yang ketat, tidak bisa menonton
tv, tidak bisa membawa ponsel (walau pun pada saat itu aku merasa memang tidak
membutuhkan ponsel), melakukan rutinitas yang sama berulang kali.
Butuh banyak rayuan untuk membuatnya mau kesana. Adikku
sempat menggerutu padaku karena aku hanya diam saja melihat kakak dan orang
tuaku merayunya.
“Kan, nilaimu tidak sampai untuk masuk ke dalam SMP negri
lebih baik memilih sekolah seperti Mba Lian saja,” – kakak sulungku yang terkenal dengan kata-kata sadisnya.
“Nanti kalau sudah lulus kamu boleh bawa motor atau mungkin
mobil,” – mamaku yang selalu merayunya dengan barang-barang. Dan hebatnya
setelah lulus SMP dia benar-benar diizinkan untuk mengendarai mobil.
“Nanti kalau papa meninggal siapa yang bisa mendo’akan papa?
Kan kamu satu-satunya laki-laki dirumah ini,” – ayahku yang memang sangat taat
beragama, ekstrim memang tapi cukup membuat kami merinding terutama adikku. “Kamu
bisa mengerti apa gunanya tahajud dan banyak berzikir.”
Yah~ aku mengerti maksud ayahku, buat ayah tujuan pertama
agar adikku sekolah disana setidaknya dia bisa shalat lima waktu tanpa ada satu
pun yang bolong. Aku yang pada saat itu sibuk mencari SMA hanya diam saja. Toh,
aku bisa masuk ke mana saja. Tapi, sialnya aku hanya bisa memilih SMA yang
dekat dengan rumah di Lembang. Awalnya aku ingin mencoba mencari SMA yang jauh
dari rumah. Tapi karena ibuku takut terjadi apa-apa pada anaknya. Akhirnya aku
mengalah dan memilih SMA Negri 15 Bandung.
Penerimaan SMA lebih cepat dibandingkan SMP dan aku tidak
kaget saat sebuah pesan memberitahukanku bahwa aku siswa ke-15 dengan total 405
siswa yang masuk ke dalam SMA Negri 15 Bandung. Terdengar sombong ya?
Hahahahahaha
Setelah menerima pesan itu kedua orang tuaku bisa bernafas
lega tapi tiba-tiba ayahku menarikku dan memintaku untuk mengobrol tentang
sekolah asramaku dulu. Dengan jujur aku bilang, aku bahkan sempat ingin meminta
kedua orang tuaku untuk memindahkanku dari sekolah itu. Kau tahu? Sempat
beberapa bulan aku mendera Home Sick.
“Oia, kenapa gak bilang?” tanya ibuku dengan nada ragu
setelah mendengar ceritaku.
Aku menatap ibuku dengan pandangan malas. “Kalau aku bilang
aku yakin 100% kalian gak akan pernah mau memindahkan aku ke sekolah lain,”
jujur saja, aku sudah cukup mengenal dengan kebiasaan orang tuaku. Dan aku
hanya mendapatkan sebuah kikikan kecil dari ayahku.
“Kalau gitu, Lian tahu gak cara buat Naufal mau masuk BBS?”
Melihat tatapan kedua orang tuaku aku hanya mengangguk dan
berkata, “Kalau dia makin gak mau jangan salahin Lian.”
Adikku memang saat itu sedang senang-senangnya melihat orang
bermain gitar. Tidak jarang dia merayu ibuku untuk mengikuti kelas gitar. Tentu
saja ibuku tidak akan pernah mengabulkannya. Kursus music kan cukup mahal.
Pada malam itu adikku masuk ke kamarku dan bercerita kalau
dia memiliki teman yang jago memainkan gitar. Aku teringat beberapa temanku
yang juga jago bermain gitar. Mungkin karena pada saat di asrama kami tidak
boleh bermain game atau membawa barang elektronik apa pun. Maka teman-temanku dan kebanyakan laki-laki lebih suka bermain
gitar untuk menghilangkan kebosanan.
“Kenapa gak sekolah di BBS aja?” tanyaku tiba-tiba. Adikku
merenggut dengan kesal karena aku merusak ceritanya tentang gitar.
“Pasti ngebosenin!” aku mengangguk dengan pendapatnya. “Kenapa
mba mau sekolah disana?”
“Biar bebas dari rumah tapi malah terperangkap di penjara
suci,” perkataanku malah membuatnya semakin tidak mau masuk sekolah yang sama
denganku. “Tapi aku suka disana karena banyak teman juga.” Walau pun kami sibuk
dengan aktifitas masing-masing setidaknya setahun sekali kami akan mengadakan
reuni. Tiga tahun bersama membuat kami mengenal satu sama lain.
“Tuh kan! Aku gak mau ah!” aku tertawa melihatnya yang
terlihat gusar. “Apa bagusnya pesantren?”
“Katanya pengen bisa main gitar?” pertanyaanku jelas
membuatnya bingung. Apa hubungannya pesantren dengan gitar. “Mau taruhan? Tiga
bulan kamu sekolah disana kamu langsung bisa bermain gitar tanpa perlu kursus!”
“Iya gitu?” aku mengangguk untuk meyakinkannya. Dia sempat
berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk menerima tantanganku. “Kalau aku
bisa, mba mau minta apa?”
“Kamu harus bisa mainin lagu Sempurnanya Andra & The
Backbone, gimana?” dia mengangguk dengan bingung. Mungkin aneh dengan
permintaanku.
“OKE!!” ujarnya dengan semangat.
Dan voila! Besoknya dia mengambil kertas pendaftaran BBS dan
meminta kakakku untuk mengisinya. Kakakku dan orang tuaku cukup kaget melihat
perubahan adikku. Sedangkan aku dan adikku hanya tertawa melihat reaksi mereka.
Hasilnya? Tiga bulan
kemudian dia benar-benar bisa memainkan gitar dan memenuhi hukumannya dariku.
Hahahahaha.. Lucu memang.
Sekarang, adikku duduk dikelas tiga SMA sedangkan aku
melanjutkan kuliah disalah satu universitas yang tidak pernah aku bayangkan.
UNPAD. Karena dia bisa mengendarai mobil kadang aku memintanya untuk
menjemputku jika aku ingin pulang ke rumah.
Karena dia baru pulang dari les maka mau tidak mau kami
pulang pada saat malam hari. Di mobil kami mendengar lagu band indi yang lebih
dominan diiringi gitar di salah satu saluran radio lokal. Tiba-tiba adikku
tertawa kecil.
“Kenapa?” tanyaku bingung dia malah menggelengkan kepala dan
fokus menyetir mobil. “Heh! Ketawa sendiri bikin orang takut!”
“Inget gak kenapa aku mau masuk ke BBS?” aku mengerutkan
dahi dengan bingung. “Gara-gara denger rayuan kamu itu loh!” katanya sambil
tertawa. “Aku gak akan pernah mau masuk BBS kalo mba gak ngerayu aku trus bilang aku bakalan bisa main gitar.”
Aku ikut tertawa mendengar ceritanya. “Tapi emang langsung
bisa kan?” dia mengangguk dengan semangat. Bahkan sekarang dia memiliki band
sendiri di sekolahnya dan terkadang band mereka tampil dibeberapa event. Dia
bahkan sudah bisa menciptakan lagu. Lagu sederhana tapi cukup enak untuk di
dengar. Toh aslinya dia cukup ahli dalam membuat sebuah puisi.
Tapi dia tidak tahu, saat ayahku menanyakanku kenapa adikku
langsung mau masuk BBS. Dan aku mengatakan alasannya dengan sejujur-jujurnya.
Ibuku tertawa, kakakku menggelengkan kepala sedangkan ayahku menjitak kepalaku
sambil memelukku.
“Berarti dia sekolah di BBS cuman buat gitar dong?” seru
ayahku yang membuat kami terdiam.
Iya.. ya..
Hah! masa bodoh yang penting adikku kan sudah mau masuk BBS.
Tugasku kan hanya itu. Hahahahahaha
0 komentar:
Posting Komentar