APA YANG PALING DIINGINKAN MANUSIA
- Kesehatan dan pemeliharaan kehidupan
- Makanan
- Tidur
- Uang atau benda-benda yang dapat dibeli dengan uang
- Kehidupan di alam baka
- Kepuasan seksual
- Kesahteraan anak-anak kita
- KEBANGGAAN SEBAGAI ORANG PENTING
Kenapa saya
buat capital bahkan sampai dibold segala? Karena hal yang paling terakhir
adalah hal yang paling sulit di dapatkan. Kenapa? Selain alasan klasik tidak
dapat dibeli dengan uang tentunya. Nomor ke delapan ini adalah hal yang sangat
jarang dilakukan orang lain kepada kita.
Ada satu hal
yang membuat saya teringat dengan teman saya yang biasa saya panggil Aoi. Dulu
dia pernah bercerita kepada saya tentang temannya yang bernama Xiao tapi biasa
dia panggil Kirei padahal dia seorang laki-laki. Kurang lebih isi cerita yang
dia bicarakan seperti ini.
“Ketika kita
sedang bersama, saya selalu membuat Xiao bercerita banyak hal sama dengannya
yang selalu terlihat penasaran dengan cerita saya. Tapi dalam beberapa waktu
saya lebih suka mendengarnya bercerita dibandingkan saya yang bercerita. Kalau
diingat-ingat saya selalu merasa kalau saya itu orang yang membosankan karena
membiarkan dia yang terus bercerita. Toh, pada dasarnya saya sangat tertarik
dengan semua pengalamannya dan saya masih ingat apa saja yang dia ceritakan.
Suatu ketika
saya bertemu dengan teman yang tidak dekat dengan saya tapi dekat dengan Xiao.
Dia duduk disamping saya dan berkata, “Tau gak Xiao sering bilang, kamu itu
satu-satunya perempuan yang bisa dia ajak ngobrol banyak hal.” Saya bingung
dengan perkataannya dan hanya tersenyum. “Dia juga bilang dia paling nyaman
bicara sama kamu.” Lagi-lagi saya mengangguk. Saat perempuan itu pergi saya
terdiam cukup lama. Apa yang membuat dia merasa nyaman dengan saya? Bahkan
setiap bersama saya, saya sangat jarang mengucapkan sesuatu bahkan saat dia
mengeluh saya hanya mengelus punggungnya tanpa memberikan kata semangat atau
menasehatinya.”
Ternyata
jawabannya cukup singkat bahkan terdengar sederhana, cukup menjadi pendengar yang baik. Sayang menulisnya
tidak semudah mengatakannya. Karena untuk menjadi pendengar yang baik berarti
kita harus menghilangkan ego kita untuk menyela pembicaraannya.
Karena memang
pada dasarnya kita hanya memikirkan diri kita sendiri. Jangan membandingkan
kalimat saya dengan berapa nominal yang kita keluarkan saat memberi sumbangan
kepada kaum miskin. Cukup dengan setiap kita berbicara dengan orang lain di
telfon kita akan tahu. Kata apa yang paling banyak diucapkan oleh kedua orang
tersebut? Jawabannya kata pengganti orang pertama “saya, saya dan saya.” Tidak
hanya kalian bahkan saya sendiri juga ingin diakui dan ingin seseorang tertarik
dengan apa yang saya minati. Tapi toh siapa yang peduli?
Kebetulan saat menulis artikel ini saya sudah menghitung jumlah kaya "saya" sebanyak 58 kata.
Saya ingat
kejadian yang cukup membuat saya kesal sekaligus ingin terkikik geli. Kami
berdua sama-sama penyuka musik. Dia seorang gadis yang pernah mengikuti beberapa
lomba kesenian mau pun akademik. Saya
cukup mengerti ketika dia bilang, “Saya yakin saya bisa melakukan semuanya, karena
saya mampu untuk melakukannya,” terdengar sombong? Ya awalnya saya juga
berpikir seperti itu. Tapi toh wajar dia mengatakannya. Hanya saja ingat satu
hal di dunia ini tidak ada yang sempurna.
Saat itu dia
memberikan sebuah cerpen dan saya mengkritiknya sebagai seorang pembaca. Walau
pun saya sering menulis fanfiction tetap saja saya seorang amatiran. Saat itu
saya menemukan raut wajahnya yang tidak senang. Ah~ saya saat itu lupa dengan
perkataan Hans Selye “Kehausan kita akan
persetujuan sama besarnya dengan ketakutan kita kepada kritik” padahal
sudah saya garis bawahi dengan spidol pink agar terlihat mencolok dari stabilo
berwarna kuning.
Sudah beberapa
bulan kami masih berteman baik. Dia selalu membanggakan adiknya yang pandai
menyanyi dan menari. Ketika itu saya teringat dengan seorang penyanyi asal
negri gingseng. Yah~ penyanyi disana itu terkenal cukup buruk dalam pelafalan
bahasa inggris. Ketika saya menemukan seorang penyanyi yang bisa mengucapkan
kalimat dalam bahasa inggris dengan fasih membuat saya sangat tertarik.
Dengan semangat
saya ceritakan padanya sampai-sampai kita masuk ke dalam cafe. Saya masih saja
bercerita, bagaimana saya mengagumi artis tersebut. Apa tanggapannya yang dia
tunjukan pada saya? dia hanya mengangguk sampai seorang pelayan memberikan
sebuah buku menu. Saat saya ingin menunjukkan videonya saya sedikit kebingungan
karena saya lupa membawa headset.
“Kamu bawa
headset?” dia mengangguk.
“Ah! Kalau gitu
pake headset kamu aja, biar kedengeran.”
Dia yang sibuk
dengan menu dihadapannya tiba-tiba berkata dengan santai. “Gak usah deh, males
ngambilnya.”
JLEB!
Hahahahahahha..
Itu memang menyebalkan tapi lagi-lagi saya teringat dengan kata-kata Dale
Carnegie. “Mengapa harus membicarakan
tentang apa yang kau inginkan? Itu kekanakan. Absurd. Tentu saja. Anda berminat
dengan hal-hal yang Anda inginkan. Anda akan selamanya berminat terhadap hal
itu. Tapi tak seorang lain pun yang berminat. Kita semua persis seperti anda :
kita berminat terhadap apa yang kita inginkan”
Saya
menyimpulkan beberapa hal. Terkadang salah satu penghargaan yang lebih berarti
ketimbang tropy mau pun nobel adalah ketika dalam sebuah diskusi orang itu
tertarik dengan apa yang kita katakan.
Ketika orang tersebut tersenyum tulus saat keberhasilan kita. Ketika
orang itu ingat dengan hari ulang tahun kita. Ketika orang itu dapat
menyebutkan nama lengkap kita tanpa merasa kesulitan saat mengucapkannya.
Bahkan ketika semua orang mencibirmu, orang tersebut memberikan senyuman tulus
tanpa mengharapkan apa pun.
Oia, satu lagi
mau tahu bagaimana membuat seseorang menghindari Anda dan menertawakan Anda di
belakang Anda, atau bahkan merendahkan Anda, ini resep yang diberikan oleh Dale Carnegie: Jangan pernah mendengar
siapa pun dalam waktu yang lama. Bicaralah tanpa putus-putus tentang diri Anda.
Kalau Anda mempunyai ide tatkala orang lain sedang berbicara, jangan tunggu dia
sampai selesai, segera saja potong ditengah kalimatnya.
0 komentar:
Posting Komentar