Calon Ségur ‘04




Judul     : Calon Ségur ‘04
Gendre : Straight Romance
Lenght  : Oneshot
Author : Anemone/Anonemo
Cast       : Hwang Zhi Tao (EXO-M)
                Song Hyo Hee (OC)
Song      :  Tompi – Menghujam Jantungku


~~

Segenap hatiku selalu memujamu
Seluruh jiwa ku persembahkan untukmu
Sepenuh cintaku merindukan dirimu
Seutuh gejolak membakar hatiku

Lima menit sekali namja yang terlihat menyeramkan karena tatapan matanya yang tajam, mengalihkan tatapannya pada jam tangannya. 10.43 PM. Dengam gelisah dia kembali menatap sekelilingnya berharap seseorang yang dia tunggu datang. Mungkin sudah puluhan atau ratusan kali dia mengirim pesan pada orang tersebut tapi tidak ada balasan sama sekali. Ditelfon? Sudah pasti tidak diangkat.

“Huft~” menghela nafas yang hanya bisa dia lakukan. Dia menatap nanar sebuah koper tanpa roda yang sudah dia siapkan.

Jangan bertanya kenapa segala sesuatu yang dipakainya dominan bermerk Gucci.  Fashion tidak hanya dimiliki oleh kaum hawa kan?

Suara operator bandara kembali terdengar memberitahunya bahwa 20 menit lagi pesawat dari Seol menuju Qingdao akan lepas landas. Dengan berat hati dia mengambil kopernya dan berjalan berlawanan arah dengan pintu boarding dan para petugas boarding pass.

Tsk, dia tidak mungkin menemui orang tuanya di China sendirian. Sepertinya nanti dia perlu menelfon atau mengirim pesan singkat pada orang tuanya kalau dia lagi-lagi tidak bisa mengunjungi mereka dan memberikan kejutan yang selalu dia janjikan.

“Tao..”

Namja bermata panda itu sejenak menghentikan langkahnya namun dia memilih menggelengkan kepala. Menganggap itu hanya suara hayalannya.

“Tao!!”

Dia kembali berjalan walau pun sebenarnya suara itu semakin keras dan sepertinya semakin dekat dengannya.

“Hwang Zhi Tao!!” kini ia mengelus tengkuknya dengan kaku.

“Ck, efek terlalu merindukannya aku menjadi mendengar suaranya terus,” gumamnya dengan langkah yang semakin lama semakin pelan.

“HWANG ZI TAO!!” bukan hanya suara tapi juga sebuah benturan keras antara kepalanya dan tas seseorang membuatnya langsung membalikkan badannya.

“Arght!” Refleks ia menggeram karena sakit sambil mengelus kepalanya sendiri.

Deg!!

“Hyo Hee..” namja yang biasa dipanggil Tao hanya menatap yeoja dihadapannya dengan terkejut. Dia menemukan yeoja yang selama ini sangat susah ditemuinya dengan jantung berdegup kencang. Berbanding terbalik dengan yeoja dihadapannya yang terlihat terengah-engah dengan koper besar berwarna orange ditangan kirinya.

“Kau.. enght~ dari  tadi aku panggil kena?” Hyo Hee langsung membelalakan matanya ketika namja dihadapannya langsung memeluknya dengan erat.

Wo jue bu neng shiqu ni..” Hyo Hee mengerutkan dahinya bingung. Dia mengerti bahasa china tapi dia tidak terlalu lancar mengunakan bahasa china. Kurang lebih arti yang dia tangkap adalah aku tidak bisa kehilanganmu..

“Aku disini..”

Hyo Hee bisa merasakan Tao tersenyum di bahunya. Hingga, suara operator kembali mengingatkan mereka kalau pesawat menuju Qingdao akan berangkat. Hyo Hee langsung mendorong Tao dan melepas pelukannya dengan paksa.

“AYO CEPAT!!” seru Hyo Hee sambil menggenggam tangan Tao dan menariknya dengan terburu-buru. “AKU TIDAK MAU MENUNDA INI LAGI!!” pekikan gadis itu malah membuat Tao tertawa dengan keras. Melihat gadisnya kesusahan menarik koper, dengan santai Tao mengambil koper gadis itu dan membawanya bersamaan dengan tasnya.

Deru nafas lega sekaligus lelah terdengar dari satu pasangan yang menghepaskan tubuhnya diatas kursi penumpang kelas eksekutif. Saat mereka sibuk memegang dada dan berusaha menstabilkan nafasnya yang terengah-engah. Suara tawa Tao membuat Hyo Hee menatap namjanya dengan bingung.

“Hah~ akhirnya..” gumam Tao lalu menatap Hyo Hee sambil menunjukkan senyumannya yang kadang terlihat kekanakan. “Ni xiang nian wo ma? (apa kau merindukanku?)

Hyo Hee terdiam dan mencerna perkataan Tao sebelum akhirnya dia berkata. “Zhen de hen xiang nian ni (merindukamu, sangat..)”

Tao menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan menyelidik. “Pian ren! (bohong)” Jelas, Hyo Hee menatap Tao dengan kaget. Meskipun tatapan Tao terlihat tajam tapi setelah mendengar suaranya kau akan berpikir dua kali untuk mengatakan kalau dia namja yang dingin. “Wei shen me ni bu gei wo da dian hua? (kalau begitu kenapa kau tidak menelfon ku?)

Kini Hyo Hee yang tertawa keras dan membuat Tao sedikit kesal.

“Jadi selama ini kau menunggu aku menelfonmu?” Hyo Hee masih bertahan dengan tawanya yang akhirnya membuat Tao mencubit pipinya dengan kesal.

“Setiap aku telfon kenapa kau tidak menjawabnya?” ujarnya masih dengan nada kesal bercampur gemas.

“Aish! Kau kan tahu aku..” Hyo Hee menggantungkan kata-katanya dan memandang Tao dengan waswas.

“Sibuk.”

“…”

“Aku tahu, kau Song Hyo Hee seorang penyanyi solo yang sedang naik daun dan dipenuhi berbagai job,” perkataan Tao belum selesai. “Bahkan untuk berlibur pun kita harus mengambil jam tengah malam karena takut dikejar-kejar fansboymu yang ganas.”

Entah perasaan Hyo Hee saja atau memang kenayataannya Tao seperti menyindirnya dengan sebuah pujian.

Duibuqi..” lirihnya yang membuat Tao mengerutkan dahi dengan bingung.

“Kenapa meminta maaf?” tanya Tao dengan heran.

“Perkataanmu seperti menyindirku.”

“Memang.”

Raut wajah Hyo Hee langsung berubah menjadi lebih suram. Ah~ Tao lupa, kalau mereka berdua memiliki karakter yang hampir sama. Sama-sama mudah sakit hati hanya dengan sebuah perkataan.

“Hei, kita mau liburan kenapa kau memasang wajah suram seperti itu?” Hyo Hee hanya menatap Tao dengan kesal dan memalingkan wajahnya. Tao berdecak dan menggelengkan kepala dengan pelan, kalau sudah seperti ini sangat sulit untuk membujuknya. “Aku tidak bermaksud menyindirmu tadi..”

Peraturan yang sudah permanen di otaknya, jika terdapat masalah di dalam sebuah hubungan maka seorang pria harus mengalah bukan?

“…”

“Kau ingat saat pertama kali kita bertemu?”

“…”

Hyo Hee tidak menjawab begitu pun Tao yang juga tidak berniat untuk menceritakannya. Mereka berdua hanya terdiam cukup lama lalu saling berpandangan. Suasana yang sempat dingin kembali menghangat karena keduanya kini memberikan seulas senyum tulus. Bersyukur dulu mereka sempat bertemu.
~~

Flash back: on

Seorang gadis dengan dress hitam bercorak lily putih memasuki sebuah bangunan berarsitektur eropa klasik. Jika orang lain mengedarkan pandangannya untuk memilih kursi maka gadis ini memilih terus berjalan tanpa mempedulikan sekelilingnya.

"Ada yang bisa saya bantu?" ujar seorang namja dengan logat aneh. Padahal gadis ini baru saja duduk di bar stool.

Gadis ini cukup lama menatap namja dihadapannya sebelum akhirnya dia mengangguk mengerti. Sebuah namtage bertuliskan Hwang Zhi Tao, memberinya sebuah petunjuk yang membuatnya mengerti kenapa namja dihadapannya berbicara dengan logat yang aneh.

"Nona?" gadis itu meringis kecil saat namja itu menatapnya dengan sedikit tajam.

"Ah! Aku ingin mencoba wine."

"Mencoba?" tanya namja dihadapannya dengan raut wajah bingung. "Kau belum pernah meminumnya?" gadis itu mengangguk kecil.

"Apa aku perlu memberikan kartu pengenal untuk memberitahumu kalau aku sudah cukup umur?" ujar gadis itu dengan polos karena mendapatkan tatapan menyelidik dari sang bartender.

"Hahahaha.. Tidak perlu, hanya saja" Mata gadis itu menatap lekat pria dihadapannya yang sibuk mengelap gelas kristal dengan lap kering. Seketika aura menyeramkan namja itu hilang jika sudah melihat senyumannya. "Apa kau pernah minum sojo?" tanyanya dengan lembut.

Gadis itu mengangguk dengan pelan.

"Tapi aku tidak suka.. rasanya aneh.."

Tao tidak berbicara sama sekali hanya sibuk mencari sesuatu dari rak dibelakangnya yang penuh dengan botol-botol wine. Tapi pada akhirnya dia mengambil satu botol dari bawah meja bar dan membuka penyumbatnya dengan mudah. Biasanya dia akan biasa saja melihat seseorang menuangkan benda cair ke dalam gelas. Tapi kini dia tercengang karena namja dihadapannya menuangkan wine dengan sangat anggun bahkan di dalam gelas sama sekali tidak terdapat gelembung.

"Mau tahu cara menikmati wine hm..?"

"Song Hyo Hee."

"Ok, bagaimana kau tertarik Hyo Hee-ssi?"

Hyo hee mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk mengambil gelasnya. Namun dengan halus Tao menggapai tangannya. Hyo Hee merasa tangan Tao sangat dingin berbanding terbalik dengan Tao yang merasa tangan Hyo Hee sangat hangat.

"Jangan sentuh wadahnya tapi pegang tungkainya," tanpa perlu ditanya Tao menjelaskan tatapan bingungnya. "Jika kau langsung menyentuh bagian wadahnya, suhu tubuh yang disalurkan melalui tangan bisa mengubah temperature wine,” jelasnya, gadis itu mengambil gelasnya dan menunggu Tao menuangkan wine untuk dirinya sendiri. “Makannya gelas wine didesain seperti ini.”

“Bisa aku minum?” tanya Hyo Hee ragu. Dia kembali tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Pegang gelas wine ditangkainya lalu coba kau putar gelasnya, seperti ini,” aku mengikuti kata-katanya dan caranya memutar gelas. “Ini dinamakan proses aerasi, maksudnya agar udara masuk kedalam cairan wine. Ketikan udara masuk, maka aroma wine yang sebenarnya akan lepas.”

“Seperti ini?”

Dia menganggukkan kepala. “Sepertinya aku pernah mendengar namamu..” gumaman Tao membuat Hyo Hee sedikit gugup. “Kau penyanyi solo ya?” BINGO! Hyo Hee hanya bisa tersenyum kecil dan menunduk. Melihat suasana menjadi kaku Tao langsung berdeham dengan sedikit keras. “Ehm! Sekarang coba kau miringkan gelas ini ke arah cahaya, amati warnanya yang kekuningan. Walau pun tidak ada hubungannya dengan rasa tapi nikmati saja..”

“Ini.. White wine kan?” Tsk, Hyo Hee kira white wine hanya berwarna bening ternyata warna kekuningan dengan embun disekeliling gelas membuatnya seperti serpihan emas bercampur berlian. “Indah..”

“Sekarang kau coba hirup aromanya.”

Hyo Hee mendekatkan gelas wine pada hidungnya. “Manis,” gumamnya. Ah~ tapi dia menyadari ada aroma lain di dalamnya. “Tapi..”

“Jeruk?” Hyo Hee menatap Tao lalu kembali mencium winenya dengan lebih seksama. Kemudian dia mengangguk dan tersenyum kecil.

“Kau benar, sepertinya ada aroma asam disini.”

“Untuk membuktikannya, coba kau minum.. tapi jangan sekali teguk,” dia memperhatikan Hyo Hee yang sedang meminum wine dengan inters. Sepertinya tatapan Tao memiliki efek berlebih pada jantung Hyo Hee. “Sesap sedikit winenya lalu bawa cairannya ke atas dan ke bawah lidah. Kemudia tarik sedikit udara dari mulut agar terjadi gelembung di bawah lidah.”

“Wuah~” seru Hyo Hee dengan berlebihan. “Tidak terlalu pekat untuk lidahku, rasanya manis dan asam walau pun sedikit pahit.”

“Aku ikut senang kalau kau menyukainya.”

“Apa harus melalu  tahap yang tadi kau katakan untuk menikmati wine?”

“Tidak juga, tapi akan lebih enak untuk menikmati wine dengan cara tadi,” kini Hyo Hee memandangnya dengan kagum.

“Apa rasa wine seperti ini semua?”

Tao tergelak dan tertawa keras. “Tentu saja tidak!” ujarnya sambil memegang perut. Apa yang lucu coba? Dengus Hyo Hee dengan kesal. “Maaf.. seperti yang kau tahu wine ini berjenis white wine, ini juga wine pertamaku.” Tao memandang botol winenya sambil tersenyum.

“…”

Tao meletakkan kembali botol winenya. Dengan anggun dia menaikkan gelas winenya dan menyesapnya dengan perlahan. “Pinot Gorgio atau Agrelo. Luján de Cuyo tahun 2008 berasal dari Arghentina.” Tao mendesah kecil sambil meletakkan gelas winenya diatas meja bar. “Wine ini difermentasikan tanpa kulit dan sedikit jeruk tanah Argenthina yang tumbuh baik pada tahun itu tapi kurang baik untuk tanaman anggur. Dan Voila! Campurannya menghasilkan cita rasa wine yang baik perpaduan antara buah-buahan yang menarik. Walau pun tidak terlalu mahal dan terkenal tapi rasanya yang manis membuatnya menjadi daya tarik tersendiri.” Dia tersenyum kecil padaku. “Dan tingkat alkohol wine ini kira-kira 13,5%”

Namja dihadapannya membuatnya terperangah dengan kagum. Sebelum dia bertanya suara langkah kaki membuat keduanya mengalihkan tatapannya kepada seorang yeoja berkulit kecoklatan yang ditemani seorang namja yang juga berkulit tan. Keduanya terlihat seperti pasangan yang eksotis.

"Sepertinya ada yang sedang sibuk menjelasakan wine."

Sindiran seorang yeoja membuat Tao tertawa kecil.

"Jiéjié.." ujar Tao sambil mengulur tangannya tidak hanya itu Hyo Hee tercengang saat Tao mengecup pipi yeoja disampingnya. "Kau semakin kurus saja Lindia-jié."

Lindia hanya mengangkat kedua bahunya dan lebih memilih menengok ke arah Hyo Hee. Dia tersenyum yang Hyo Hee balas dengan senyuman kaku.

"Hai, Kai.."

"Sudah lama kita tidak bertemu," seru namja tersebut sambil duduk disamping yeoja disamping Lindia. "Jangan bilang kau merayu seorang yeoja dengan wine andalanmu.."

Meski Tao menatap Kai dengan tajam tapi semua orang bisa menemukan semburan merah dikedua pipinya.

"Apa semua bartender seperti ini?" tanya Hyo Hee yang tadi sempat tertunda karena kedatangan dua orang berkulit tan.

"Bartender? Dia?" Tanya Lindia dengan kerutan di dahi. Hyo Hee hanya mengangguk dan menatap Lindia dengan bingung. Apa ada yang salah dengan perkataannya?? "Dia bukan hanya baretender tapi Sommelier"

"Sommelier? Apa itu?"

"Seorang ahli wine." Kini Kai yang menjawab pertanyaan Hyo Hee. Saat Hyo Hee ingin menatap Tao, entah kemana namja itu malah tiba-tiba menghilang. "Hanya dengan sekali teguk namja bermata panda itu bisa mengetahui seluk beluk wine, dari cara fermentasi, jenis tanah sampai bagaimana sistem pengairan kebun anggur.”

Lindia yang berada disamping Hyo Hee terkekeh kecil melihat raut wajah gadis disampingnya yang tercengang. “Tidak hanya itu dia memiliki keahlian dalam menilai cita rasa dan merekomendasikan padanan wine dengan makanan dan keahlian ini hanya dimiliki oleh orang yang disebut sommelier.”

“Karena itu juga kami kesini, dia juga bisa dengan mudah mencampurkan bahan cake dan wine dengan baik.”

~~

Hyo Hee pov~

Semakin lama aku semakin betah datang ke tempat ini. Walau pun aku hanya meminum satu gelas wine saja tapi aku sudah merasa puas untuk selalu datang kemari. Mungkin karena disini aku bisa bertemu dengan Tao namja berkebangsaan China. Atau mungkin aku sudah terjerat pada pesona namja bermata panda itu..

Aku mengeluh kecil saat menemukan bar stool sudah dipenuhi orang. Mau tidak mau aku hanya bisa duduk disalah satu meja bundar yang dikelilingi kursi dan menatap Tao. Aku lebih suka mengajaknya bicara dari pada memandangnya dari jauh. Tapi— aku tidak menemukannya disini.

“Mencari Tao-hyung?” tanya Zelo namja yang umurnya 3 tahun lebih muda dariku sambil tersenyum jahil. Aku hanya mengangguk. “Dia sedang pergi mengantarkan wine untuk Coffee House. Ah— aku hampir lupa kalau Tao juga merupakan salah satu pembuat cake disana. Lindia dan Kai juga termasuk orang yang berpengaruh di Coffe House. Setahuku sih seperti itu.

Saat aku ingin menanyakan sesuatu, tiba-tiba terdengar sebuah keluhan yang berasal dari meja disebelahku.

“Pahit~” keluh seorang namja sambil menjauhkan gelas wine dari mulutnya. Dengan cepat Zelo mendatangi meja disampingku dengan raut wajah cemas. Yah~ walau pun dia terlihat kuat bahkan terkesan bad boy tetap saja jika dihadapi dengan wine dia masih amatiran.

“Kau sepertinya salah memberikan kami wine,” ujar seorang gadis berkebangsaan Jepang sambil tersenyum lembut. Zelo hanya mengelus tengkuknya dengan gugup. “Kami memesan Henri Jayer Vosne-romanee ’85 dari sebulan yang lalu.”

Satu lagi terkadang untuk wine mahal dan langka mereka memang harus memesannya terlebih dahulu.

“Zelo..” suara lembut itu membuat kami mengalihkan tatapan kami pada namja yang memiliki tindik di telinga kanannya. “Ada apa?”

Zelo membisikkan sesuatu pada Tao.

“Bawakan decanter,” Zelo hanya mengangguk dan berjalan menuju bar. Decanter itu semacam tabung yang memiliki leher panjang dan ramping sedangkan dibawahnya terdapatkan lengkungan besar. Alat ini berfungsi agar endapan wine dalam botol tidak ikut tercampur dengan cairannya. Selain wine diminum bersih dari ampas alat ini juga meningkatkan aroma wine.

“Maafkan kami hyung..” ujar Tao dengan raut wajah bersalah. Namja dihadapannya yang tadi mengeluh pahit hanya tersenyum lembut. “Aku malah mengecewakan hyung padahal Hana baru saja kembali dari Jepang.”

Saat Zelo kembali dan Tao bermaksud menuangkan wine ke tempat yang bernama decanter tangannya terhenti dan mengambil gelas wine milik namja yang memiliki angelic smile. “Hah~ pantas saja..” dia mengambil sumbatan dari botol wine tersebut. “Wine ini rusak karena tersumbat.”

“Pantas saja tercium bau busuk.”

“Maafkan aku Junmyeon-hyung.” Lirih Tao pelan.

“Tapi.. bisakah kau memberikanku wine yang sebanding?” ujar Hana dengan cemas berbanding terbalik dengan Junmyoen yang menampakkan aura suram.

Tao cukup lama terdiam sampai akhirnya tersenyum dengan pelan. “Tunggu sebentar..”

Saat Tao melangkah melewatiku dia berhenti sejenak dan membalikkan badannya. “Kau sendirian?” aku mengangguk pelan. “Bagaimana kalau kau bergabung dengan Junmyeon-hyung dan Hana.”

Aku hanya diam tidak berniat untuk menerima tawarannya bahkan Tao pun sudah pergi menuju pintu gudang wine. Saat aku menatap kedua pasangan itu aku menemukan senyuman keduanya yang ditujukan padaku.

“Kau Song Hyo Hee kan?” tanya gadis kebangsaan Jepang itu sambil tersenyum. “Mau bergabung bersama kami?” tawaran yang mengiurkan memang tapi­— aku tidak mau merusak kencan seseorang.

“Tao banyak bercerita tentangmu,” kata yang baru keluar dari mulut namja berambut coklat membuatku terperangah. “Maaf ketidak sopanan kami, seharusnya kami memperkenalkan diri kami dahulu kan?”

Perkataannya Junmyeon mau tidak mau membuatku tertawa kecil dan beranjak dari kursiku untuk duduk dihadapan mereka berdua.

Kami menunggu cukup lama setelah acara kenalan dan basa-basi yang lumayan menyenangkan. Akhirnya Tao kembali dengan sebuah botol wine ditangannya. Tapi ada yang janggal kenapa Tao menutup botol winenya dengan sebuah saputangan putih.

Baru saja Tao membuka penyumbatnya, Junmyeon tiba-tiba berkata. “Tsk, padahal wine yang kau pesan lumayan mahal kan?” keluhnya sambil meremas tangan Hana. “Sayang sekali kalau rusak.”

“Kau tahu wine kenakalan dewa hyung?” tanya Tao sambil tersenyum kecil dan menuangkan wine yang baru dia bawa ke dalam decanter dengan anggun. Jarak antara wine dan decanter sangat tinggi, lagi-lagi yang membuatku aneh tidak ada satu pun gelembung yang keluar dari dalam decanter dengan cara menuang setinggi itu. “Kau akan tahu kenakalan macam apa yang dia ciptakan setelah merasakannya.”

Junmyeon sempat merasa ragu saat mengambil gelasnya yang sudah terisi wine yang dituangkan oleh seorang sommelier. Ah— aku hampir lupa ciri-ciri seorang sommelier itu cukup mudah, kau tinggal melihat apa seragam yang digunakan memiliki pin berbentuk anggur berwarna perak. Sebenarnya tidak hanya pin berbentuk anggur banyak bentuk dan jenisnya hanya saja aku hanya tahu hal itu saja.

“Woaaah..” seru Junmyeon dengan kagum. “Kalian harus mencobanya,” ujar Junmyeon dengan semangat. Tao hanya tersenyum kecil menuangkan wine dari dalam decanter ke dalam gelas kami. Apa aku juga harus mencobanya?

Aku menatap decanter dengan lekat. Masalahnya warnanya terlalu pekat untukku.

“Coba saja..” ujar Hana saat melihatku hanya menatap gelasku. “Cukup cicipi saja.”

“Eh?” seruku dan dengan ragu aku meminumnya. Sial~ ini terlalu pekat..

“Kenapa?” tanya Junmyeon heran melihat reaksiku.

“Ini terlalu rumit untukku,” ujarku pelan. Aku kan masih pemula. “Yang aku tangkap ada rasa strawberry..”

“Lalu?”

“Hm..” aku kembali mencicipi wine dihadapanku. “Aku seperti melihat seseorang berdiri di ladang strawberry,” bukan.. lebih tepatnya aku seperti melihat Tao berdiri disana membelakangiku. Kemeja putih dan celana hitam panjang. Berbaliklah.. Aku mohon.. Dan.. Saat dia berbalik aku menemukannya memakai kemeja putih berlengan panjang dengan dua kancing teratas terbuka. Sekelebat aku langsung menyadari mawar merah tua bermekaran disekelilingnya. Dari tubuhnya menguar aroma manis dari sirup maple. Tidak— bukan hanya itu. Bahkan bayanganku menemukan kau mendekatiku, menarik daguku dan mengecup bibirku dengan sangat lembut.

Aku langsung mendongakkan kepalaku dan menatap Junmyeon, Hana dan Tao yang tersenyum ke arahku. Tanpa sadar wajahku memerah..

“Bagaimana?” tanya Junmyeon sambil menaruh sikunya pada meja untuk menenggerkan dagunya pada telapak tangannya. Aku cukup terperangah mendapatkan namja yang selalu tersenyum lembut tiba-tiba menunjukan seringainya.

“Ini— terlalu eksotis bahkan terlalu.. ehm..” sensual untukku. Aku tahu mereka pasti mengerti maksudku.

“Tapi— kau yakin ini bukan Vosne-romancenya Henri Jayer?” tanya Junmyeon pada Tao. Entah kenapa aku merasa lega mendapatkan Junmyeon tidak lagi menatapku.

Tao tidak perlu menjawab hanya perlu membuka kain yang membungkus botol tersebut. “Vosne-romanee les reignots syvain cathiard ’99 dari Emmanuel Rouget.”
“HAH?!” suara pekikan Junmyeon dan Hana hampir membuatku memuntahkan jantungku sendiri.

“Aku tidak tahu kalau Emmanuel Rougest memiliki karya yang sebanding dengan pamannya?” ujar Junmyeon dengan kagum. Aku bahkan menemukan tatapan berbinar dari mata Hana. Memangnya siapa Henri Jayer dan Emmanuel Rougest? “Aku memang sempat mendengar kalau dia penerus Hanri Jayer tapi bukankah kemampuannya tidak sebanding?”

Sebelum menjawab pertanyaan Junmyeon, Tao lebih memilih duduk disampingku dan menatap Junmyeon sambil tersenyum kecil. “Kau tahu hyung? di Burgundy Prancis kabarnya wine tahun ‘99 karya Emmanuel Rouget dibuat oleh Henri Jayer pencipta Crox parantoux.”

“Maksudnya?” kini Hana yang menatap Tao dengan lekat.

“Yah~ kesehatan Rouget memburuk dan kondisinya tidak memungkinkan untuk membuat wine pada tahun ‘99 berbanding terbalik dengan pamannya Henry Jayer yang walau pun sudah berusia 80 tahun dia masih berdiri dengan prima oleh karena itu dia meneruskan pembuatan wine sebagai pengganti Rouget.” Dia mengangkat bahunya dan menuangkan wine itu pada gelasnya sendiri dan menyesapnya dengan penuh penghayatan. “Aku juga awalnya tidak percaya tapi setelah mencobanya aku baru percaya.”

Terpesona.. itu yang aku pikirkan tentangnya.

Dia terkekeh kecil saat menemukanku menatapnya dengan lekat. “Ini adalah buatan dewa, ah~ bukan, wine ini  lahir dari kenakalan dewa.”

“Kau romantis juga..” perkataanku jelas membuat Junmyeon tertawa keras.

“Bukan aku tapi Hana,” ujarnya sambil terkekeh kecil. “Dulukau tahu aku hampir gila saat dia memberikan wine ini saat aku meminta  jawaban atas lamaranku.” Sekilas aku bisa menebak kini lengan Junmyeon melingkat dipinggang Hana yang sedang menggunakan dress hijau toska A line berbahan sutra. “Tao itu penuh kejutan ya?” ujar Junmyeon sambil menyelipkan rambut panjang Hana yang berwarna kecoklatan dibalik telinganya tapi matanya menatapku dengan lekat.

“Eh?”

“Siapa?” tanya Junmyeon sambil tersenyum kecil.

“…”

“Siapa yang kau bayangkan tadi?”

Tanpa sadar aku langsung menatap Tao yang juga sedang menatapku. Bodoh~ aku hanya bisa merutuki daya refleksku saat menemukan raut wajah terkejut dari Tao.
~~

Tao pov~

Sudah sebulan semenjak peristiwa kenakalan dewa terjadi. Sampai saat ini aku tidak pernah melihat Hyo Hee datang kesini. Boleh tidak aku berharap kalau Hyo Hee sebenarnya memang sedang membayangkanku saat meminum wine pilihanku untuh Junmyeon dan Hana?

Atau mungkin karena karirnya yang semakin meningkat, dia jadi malas datang kesini. Tsk, butuh pertanyaan jebakan untuk membuatnya mengaku kalau dia memang seorang penyanyi. Dulu aku memang tidak terlalu suka lagu mellow berkat jasanya aku mejadi tertarik dengan lagu mellow itu pun kalau dia yang menyanyikannya. Dimana sih gadis itu?

“Hyung..” suara teguran Zelo membuatku terbangun dari lamunanku.

“Ya?”

“Ada paket..” ujarnya sambil menaruhnya dengan hati-hati di atas meja bar. “Sepertinya ini wine.”

Aku membuka bungkusnya dengan perlahan. “Ini apa?”

“Châteaun Calon Ségur buatan Saint-Estèphe setahuku itu wine wilayah Bordeaux dari Perancis. Berasal dari Grand Cru Class Vintage tahun 2004” Aku menatap Zelo dengan malas.

“Semua orang juga tahu, bodoh.. kau kan hanya membaca labelnya.” Zelo hanya menatapku sambil tertawa kecil dengan tangan mengelus tengkuknya pelan.

“Coklat?” gumam Zelo sambil memandangku saat kami berdua berpandangan setelah menyesap wine barusan.

Aku menyesap wineku dan menemukan sensasi pekat dari manisnya coklat dan anggur secara bersamaan. Wine yang tidak terlalu pahit namun terlalu manis untukku. Saat aku kembali meminum wine ini agar lebih jelas.

Aku menemukan sebuah bayangan Hyo Hee yang tersenyum manis padaku. Bahkan aku bisa mencium wangi manis dan segar yang menguar dari tubunya seperti bunga fleur de lisa atau biasa dikenal dengan nama lily.

Deg!!

“W— what?” Oke, Tuhan aku punya satu pertanyaan kenapa akhir-akhir ini aku selalu membayangkan Hyo Hee jika sedang mencicipi wine?

“Kenapa hyung?” Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. “Ah! aku hampir lupa.. Ini ada pesan yang terselip.”

Ni shi wo de xing fu ma?
(Kaukah kebahagiaanku?)
_S.H.H_

“Pft.. Hahahahaha..” Tanpa sadar aku tertawa keras menatap secarik kertas ini. Zelo yang pada dasarnya tidak mengerti bahasa mandarin menatapku dengan bingung. Sial~ aku melupakan sesuatu.

“Sekarang tanggal berapa?”

Zelo merogoh sakunya dan menatap handphonenya. “14 Februari.”

Jawaban Zelo malah membuatku semakin keras tertawa. S.H.H. Kalau aku boleh menebak itu pasti inisial Song Hyo Hee kan?

“Ya Tuhan! Sekarang berarti valentine kan hyung?” tanya Zelo sambil membulatkan matanya. “Jangan bilang ini hadiah valentainemu hyung?!” serunya dengan bersemangat. “Siapa yang memberikannya hyung??” 

“Aku”

Sontak aku dan Zelo menatap gadis yang baru saja menutup pintu. Baru kali ini aku tertarik dengan gadis yang buta fashion dengan rambut panjang berwarna pirang yang terkesan sederhana. Padahal dia artis kan? Tapi toh nyatanya kesederhanaannya malah membuatku jantungku sering berjumpalitan dengan tidak menentu.

Aku tahu wajahku memerah dan dengan langkah cepat aku mendekatinya.

Xing fu de kai shi jiu shi— (awal dari kebahagiaan adalah..)” dia menatapku dengan lekat saat aku masih berjalan mendekatinya. “Ni de cun zai (keberadaanmu)… Xin ling gan ying de fang xiang (arah perasaan hatimu)” saat aku sudah berdiri dihadapannya aku menemukan tubuhnya yang tegang.

“Hah?”

Ni zheng zai kan wo (kau menatap ke arahku..)” aku menemukan Hyo Hee tergagap saat aku berdiri dihadapannya. Aku menundukkan sedikit tubuhku agar wajahku tepat berhadapan dengan wajahnya. “Maka­zhiyao kanzhe ni.. (aku hanya akan melihatmu..)

Satu kecupan aku berikan padanya. Lembut dan singkat namun terasa manis. Tubuhnya mematung saat aku memeluknya.

“Bernafaslah..” bisikku saat aku merasakan dia menahan nafasnya karena kaget.

“Tao..” bisiknya. Aku bisa merasakan deru nafasnya di dadaku. Bahkan aku bisa merasakan degup jantungnya.

“Hm?”

“Kalau boleh jujur.. aku..”

“Ya?”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

Hening..

“BUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA—“ hingga akhirnya terdengar suara Zelo yang menggema membuatku tersadar. Aku melepaskan pelukanku dan mencekram bahunya.

“Maaf..” ujar Hyo Hee dengan wajah ketakutan karena aku menatapnya dengan tajam. “Pesan yang aku berikan padamu itu dari judul lagu.”

Aku menepuk dahiku dengan keras. Astaga~ Tuhan.. Bunuh aku sekarang juga.. eh! Jangan deh..

Dia masih menundukkan kepalanya saat tanganku kembali melingkar dipinggangnya. Suara kekehan kecilku membuatnya mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan takut.

“Apa aku adalah kebahagiaanmu?”

“Eh?” mendadak dia menjadi salah tingkah didekapanku.

“Aku tidak tahu jawabannya tapi— apa kau mau mencoba mencari tahunya?”

Flash back : off
~~

Author pov~

Dengan susah payah supir taxi itu mengeluarkan barang-barang yang dibawa Tao dan Hyo Hee. Satu bulan merupakan waktu yang cukup lama untuk berlibur maka mereka memang harus membawa banyak perlengkapan setidaknya untuk tubuh mereka sendiri.

Jangan lupa mereka juga penggemar merk Gucci. Pasangan fashionable. Yang satu tuntutan karir karena seorang artis yang satunya lagi memang karena tuntutan hati. Jadi jangan heran kalau melihat seorang Hwang Zhi Tao mengkritik pakaian kekasihnya sendiri.

Suara deru ombak dan aroma asin laut membuat Hyo Hee menampakkan senyum merekah. “Aku tidak tau Qingdao merupakan daerah pesisir pantai?” ujarnya dengan bersemangat.

Tao hanya tertawa saat melihat kekasihnya tiba-tiba menjadi hiperaktif. Hyo Hee hanya mengikuti langkah kaki Tao yang menyeret tasnya sambil menatap sekeliling. Dia menatap sebuah bangunan tua yang besar dengan terperangah.

“Ini tempat apa?”

“Ah~ ini tempat pembuatan beer.. beer Qingdao merupakan beer yang paling terkenal di daratan Tiongkok. Saat musim panas sering diadakan festival beer Qingdao disini.”

“Beer?”

“Yup!”

“Pantas saja..” gumam Hyo Hee yang sebenarnya tidak dihiraukan Tao walau pun terdengar jelas. Semua orang pasti akan mengatakan pantas saja Tao bisa menjadi sommelier handal tempat asalnya saja sudah terkenal dengan beernya.

Kini mereka berdua berdiri di depan pagar yang cukup tinggi, dikelilingi beberapa pohon kelapa dan beberapa tumbuhan yang bisa hidup di iklim samudra. Daerah ini selalu hangat saat musim dingin dan sejuk saat musim panas.

Hyo Hee sebenarnya cukup heran menatap rumah ini. Baru saja dia melihat banyak rumah-rumah saling berdempetan. Sekarang dia malah menemukan rumah yang kokoh seolah raja di daratan Qingdao.  Semua orang jelas tahu China itu terkenal dengan kepadatan penduduknya.

“Ini rumah siapa?”

“Rumahku,” ujar Tao santai sambil memencet bel.

“Hah?!”

“Ini kejutan yang akan aku tunjukan padamu,” ujar Tao sambil melingkarkan lengan kanannya dipinggang ramping Hyo Hee. Entah kenapa Tao yakin kalau gadis ini akan kabur. “Aku akan mengenalkanmu pada keluargaku.”

“APA?!” pekik Hyo Hee dengan keras.

Hahahahahahahaha.. menurut Tao, hidup memang indah jika bisa memberikan kejutan pada keluarganya dan kekasihnya sendiri dalam waktu bersamaan. -____-“ #CHAYO!!

Oh, takkan ku lepaskan
Dirimu oh, cintaku
Teruslah kau bersemi
Di dalam lubuk hatiku

END.OVER
~~


Okeh sayah mau jujur dulu ini ff hasil remake ff yaoi 2MIN : VONE ROMANEE '01 tahun 2012. Buat beberapa keterangan tentang wine sayah dapet dari The Drops of God yang ilustrasinya keren abis sama beberapa blog yang sayah comot infonya.

Nb, gambar supaya kalian ngeh benda-bendanya, buat tahun pembuatan mungkin beda tapi botolnya sama kok.. 

posted under , |

0 komentar:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

In time

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

My world

Tentang semua pemikiran yang terkadang nyeleneh, gak guna tapi berkesan.

Tentang semua yang ditangkap mata, didengar telinga, dan dirasakan oleh anggota tubuh mengenai peristiwa yang ada disekitar.

Bukan hal yang berbobot tapi cukup berguna untuk dipikirkan
.

Recent Comments