I CRIED FOR MY BROTHER SIX TIMES (HUNHAN/BROTHERSHIP)


Aku lahir disalah satu desa terpencil di daratan Tiongkok

AH!

Maaf, jika kau berharap ini sebuah cerita sebuah keluarga bahagia dimana ayahku yang selalu giat bekerja memiliki sebuah perusahaan besar. Didampingi seorang ibu yang memiliki senyum terindah saat dia membangunkanmu di pagi hari yang cerah. Serta seorang adik laki-laki yang selalu membuatmu jengkel tapi kau tetep akan menyayanginya.

Tidak..  Hidupku tidak seperti itu. Tapi hidupku toh tak seburuk dongeng Cinderella. Aku memiliki ayah yang giat bekerja demi menghidupi kami dengan membajak sebuah tanah kering, dibantu oleh ibuku. Setiap hari mau tidak mau punggu mereka menyapa sang matahari. Aku juga memiliki adik laki-laki sepertiku yang tiga tahun lebih muda dariku.
~~

Author pov~

“Belajar giat, hm?” tanya seorang wanita yang masih terlihat cantik namun tertutupi oleh raut kelelahannnya. Tangan wanita itu mengelus rambut anak sulungnya dengan lembut. Membuat seorang anak laki-laki yang serius mengisi jawaban menghentikan guratan pensilnya.

“Ya?” dia mendongakkan kepalanya menunjukkan parasnya yang tidak berbeda jauh dengan ibunya. Dia menatap seseorang yang menghentikan kegiatannya sambil menunjukkan senyumannya.  Tercetak dengan jelas bukunya yang bertuliskan Matematika kelas 6 SD.

“Bisa kau jemput adikmu?” dia menganggukkan kepalanya dan mengambil mantel yang tidak terlalu tebal dan sepasang sarung tangan.

Kalian pasti bingung kenapa dia tidak sekolah. Itu semua dikarenakan beberapa hari lagi dia akan mengikuti tes kelulusan dan khusus untuk kelas enam dibebaskan untuk tidak masuk sekolah. Agar mereka memantapkan pelajaran yang sudah diterima. Kalian bisa menyebutnya minggu tenang.

Butuh beberapa jam perjalanan untuk mencapai sekolahnya, itu semua kerena sekolahnya berada di desa yang berbeda. Udara yang dingin dengan jalan di penuhi salju menjadi tantangan tersendiri untuknya. Jika dia bisa mengeluh pasti dia sudah mengeluh. Tapi dia tidak mau adik satu-satunya itu mati kedinginan.

“Hei!” serunya dengan jalan tergesah-gesah. Anak kecil yang sendari tadi duduk diam disalah satu halte bus di depan sekolahnya, mendonggakkan kepalanya dan menatap kakaknya dengan berbinar. “Ayo pulang!” sedangkan sang kakak menatap iba adiknya yang terlihat kedinginan seolah-olah beberapa detik saja terlambat dia akan membeku ditempat sesunyi ini.

Mereka berjalan menuju rumah dengan langkah pelan. Semua jalan ditutupi salju mau tidak mau mereka harus berhati-hati dalam melangkah. Kedua tubuh mungil itu hanya berjalan dalam diam, seolah jika mereka mengatakan sepatah kata saja akan membuat tubuh mereka membeku.

Gé~” gumamnya dengan gigi gemertak. Dia menatapnya adiknya dengan bingung, biasanya adiknya tidak semenggigil itu. Adiknya kini tepat berada dibelakangnya, dia kembali menjejakkan langkahnya diatas salju dan adiknya akan menginjak bekas jejak kaki kakaknya agar tidak terperosok.

“Hm?” saat sang kakak  membalikkan badannya, dia menemukan sebelah tangan adiknya membiru. “Kemana sarung tanganmu yang lain?” tanyanya heran.

“Hilang,” cicit adiknya dengan ketakutan. Dia hanya mengerutkan dahi melihat ekspresi adiknya yang ketakutan. Dengan helaan nafas dia melepas sarung tangan kanannya dan memakaikannya ditangan adiknya.

“Sudah hangat?” dia tersenyum kecil saat kepala adiknyanya mengangguk dengan semangat dan menatapnya sambil tersenyum. “Ayo pulang, ibu sudah membuatkan makanan hangat untuk kita.” Dengan singkat sang kakak mengusap pucuk kepala adiknya yang terhalang kupluk merah yang warnanya sudah memudar.
~~

I CRIED FOR MY BROTHER SIX TIMES
|
XI LUHAN  AS  XI LUHAN
XI SEHUN AS OH SEHUN
|
BROTHERSHIP
|
ALL LUHAN POIN OF VIEW
|
ALTERNATE UNIVERSE
CANON
OUT OF CHARACTER (MAYBE?)
|
ADAPTASI DARI CERITA DENGAN JUDUL YANG SAMA “I CRIED FOR MY BROTHER SIX TIMES”
~~~


Bodoh

Aku tergiur dengan perkataan temanku. Aku mencintai sepak bola dan mereka jelas tahu itu. Dengan bodohnya, aku percaya bahwa ada sepatu bola seharga 10 Yuan. Aku hanya bisa menghela nafas ketika aku membuka kotak yang mereka berikan. Kau tahu apa yang aku dapatkan? Hanya sepasang sarung tangan terbuat dari rajut berwarna kuning dengan secarik kertas bertuliskan. “BODOH” Aku yakin sarung tangan itu bahkan tidak lebih dari 3 Yuan.

Senyum miris yang bisa aku tunjukan berbanding terbalik dengan mereka yang tersenyum mengejek padaku. Bodoh, rutukku dalam hati.

Seperti biasa aku berjalan pulang bersama adikku. Aku hanya diam sama sepertinya yang juga terdiam. Aku merogoh kantung celanaku dan menatap adikku yang juga sedang menatapku. Setidaknya 10 Yuan tidak terbuang sia-sia.

“Aku akan memberikanmu sesuatu tapi jangan protes,” mendengar perkataanku sontak mata Sehun berbinar dan menatapku dengan penasaran. Saat aku memberikan sarung tangan  berwarna kuning cerah, aku tentu sudah siap dengan nada protesnya. Aku terkejut menemukannya tersenyum senang.

“Terimakasih Gé.”

Jawaban yang cukup mengejutkan..

Saat aku dan Sehun melepaskan sepatu, betapa kagetnya kami menemukan ayah memegang tongkat  bambu panjang. Aku sudah tahu, pada akhirnya ayah akan menyadari uang 10 Yuan dari lacinya menghilang. Bahkan aura kemarahannya sangat bisa aku rasakan saat ayahku meminta kami berlutut menghadap tembok. Bahkan ayahku tidak memberikan kami kesempatan hanya untuk mengganti baju seragam kami.

“SIAPA YANG MENCURI UANG ITU?!” suara lantang ayah sontak membuat kami terdiam. Nyaliku menciut dengan drastis. Jujur aku takut ayah memukulku dengan bambu yang ada ditangannya. Seolah mulutku terkunci dengan rapat aku hanya bisa memejamkan mataku. “Baiklah kalau begitu, kalian layak untuk dipukul.”

Aku sontak memejamkan mataku dan menahan nafasku sambil menggigit bibir bawahku saat ayahku mengangkat tingi tangannya dan hendak memukul kami. Tapi sebuah tangan menahan tangan ayahku dan mencekram tangannya.

“Aku yang mencurinya ayah!”

BUAGH!!

Aku membulatkan mataku saat ayah dengan kerasnya menghantam tongkat yang ada ditangannya  pada punggung orang yang mengaku mengambil uangnya. Bukan aku yang mengatakannya tapi adikku..

Sehun

BUAGH!

“KAU SUDAH BELAJAR MENCURI DARI RUMAH SEKARANG, HAL MEMALUKAN APA LAGI YANG AKAN KAU LAKUKAN DI MASA MENDATANG?!” cerca ayahku tanpa menghentikan pukulannya

BUAGH!

BUAGH!

”KAMU LAYAK DIPUKUL SAMPAI MATI! KAMU PENCURI TIDAK TAHU MALU!” umpat ayahku. Seperti kesetanan ayahku terus memukul adikku dengan keras. Sampai akhirnya dia berhenti karena kehabisan tenaga dengan nafas tersenggal. Dia terus memarahi adikku dengan geram walau pun tidak memukulnya lagi.

Dan aku? Hanya bisa terdiam saat adikku dipukul karena kesalahanku. Luhan! Kau kakaknya hati nuraniku terus berteriak dengan keras. Tapi siapalah aku? Aku hanyalah seorang kakak pengecut yang berlindung di punggung kecil adikku sendiri.

Entah berapa banyak pukulan yang ayahku berikan. Yang aku tahu itu sangat banyak.  Ayahku terduduk dengan lemah dan meminta aku dan ibuku untuk membawanya ke kamar.

Sontak aku memeluk adikku dengan tubuh bergetar dan ibu membantunya masuk ke dalam kamar kami. Ibu tampak terisak saat mengobati luka adikku yang cukup mengerikan. Tapi yang membuatku heran aku sama sekali tidak menemukannya menangis. Aku meringis melihatnya menahan sakit.

Kami tidur berdua di atas satu kasur. Sampai tengah malam, aku tidak bisa tidur begitu pula adikku yang terus saja merintih karena kesakitan. 

Bukan perasaan lega yang aku dapatkan tapi rasa bersalah dan marah berkecamuk di dalam diriku. Aku sudah tidak tahan lagi, aku kakaknya kenapa aku yang di lindungi oleh adikku.

Melihat punggungnya yang terlukan, tubuhku seakan tidak bisa aku kendalikan aku menangis dan meraung. “SeARGHT!!” bahkan untuk memanggil namanya pun aku tidak bisa. Aku menjambak rambutku sendiri sampai akhirnya tangan kecilnya menutup mulutku.

“Sudahlah gé semua sudah terjadi, untuk apa kau menangis?” aku terkesiap mendengar perkataannya yang tenang. Mulai dari hari itu aku selalu membenci diriku sendiri karena tidak memiliki cukup keberanian untuk mengaku. Bahkan aku tidak akan lupa bagaimana wajah adikku yang melindungiku. Padahal dia berusia 8 tahun sedangkan aku 11 tahun.
~~

Perbeda tiga tahun membuat keluarga kami kerepotan. Adikku lulus SMP dan dia diterima disalah satu SMA dipusat kabupaten. Bersamaan denganku yang diterima disalah satu universitas provinsi.

Pada malam itu aku memandang surat penerimaanku dengan resah. Aku menemukan ayahku sedang duduk dihalaman sambil menghisap rokok tembakau, bukan hanya batang demi batang tapi bungkus demi bungkus sudah dia habiskan. Tanpa sengaja aku diam diambang pintu, mendengar ayah mendesah dengan mulut mengeluarkan asap rokok. “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik” dia mengambil asbak dan menaruh rokok yang sudah habis dihisapnya. “hasil yang begitu baik,” gumamnya, kini dia mengambil sebatang rokok lagi.

Ibu mengusap air matanya dan menghela nafas. “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai mereka berdua sekaligus?”

Tiba-tiba Sehun menghampiri ayah dan berkata. “Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku sudah cukup banyak membaca buku.” Mendengar perkataan adikku, ayah menatap adikku tajam dengan mata menggelap.

PLAK!

Satu tamparan keras mengenai wajah adikku. “Kenapa kau memiliki jiwa lemah seperti ini?!” hardiknya, sedangkan Sehun dan ibuku hanya menundukkan kepala. “Bahkan jika ayah harus mengemis dijalanan akan ayah lakukan demi menyekolahkan kalian berdua sampai selesai!!” Saat itu juga ayahku langsung mengetuk pintu satu demi satu rumah untuk meminjam uang.

Aku berjalan mendekati adikku dan mejulurkan tanganku untuk mengelus pipinya dengan hati-hati. Dia meringis saat tanganku menyentuh kulit pipinya yang membengkak. “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan.”

Gégé, juga laki-laki kan?” aku cukup terkejut dengan perkataannya.

“Tentu saja,” ujarku sambil tertawa kaku. Melihatnya menatapku seperti itu. Saat itu juga aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikanku ke universitas.

Tapi siapa sangka keesokan harinya, sebelum mentari datang. Adikku meninggalkan rumah dengan beberapa pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap tanpa sepengetahuanku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku.

Ge, masuk ke universitas tidaklah mudah.
Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimkanmu uang.

Air mataku kembali mengalir begitu deras sampai-sampai mataku membengkak. Tahun itu Sehun berusia 17 tahun. Dan aku 20 tahun.
~~

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh warga desa dan uang yang adikku kirimkan dari hasil kerja  kuli sebagai pengangkut semen dipunggungnya di lokasi konstruksi. Akhirnya aku bisa sampai di tahun ketiga universitas.

Beberapa kali aku menghela nafas menatap buku yang aku baca. Tidak, aku tidak akan menyerah melihat perjuangan keluargaku. Aku hanya perlu belajar. Beruntung aku mendapatkan sebuah apartemen murah  walau pun lumayan jauh dari universitas.

Tok! Tok! Tok!

Aku terlonjak kaget saat mendapatkan seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Yixing?”

“Ada seorang penduduk desa menunggumu diluar,” ujarnya dan masuk ke dalam kamar begitu saja. Saat aku bertanya siapa nama penduduk desa yang menungguku dia hanya mengangkat kedua bahunya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.

Sambil berjalan ke luar aku terus berpikir, kenapa ada seorang penduduk desa yang mencariku?

DEG!

Betapa kagetnya aku, ternyata penduduk itu adalah adikku sendiri, seluruh badanya kotor tertutup debu semen dan pasir.

“Sehun-na?”

“Luhan-gé!” aku masih bisa melihat senyumannya walau pun ditutupi debu.

“Kenapa kau tidak bilang pada teman sekamarku kalau kau itu adikku?”

Dia malah tersenyum mendengar pertanyaanku dan menjawab. “Lihat bagaimana penampilanku,” ujarnya sambil membandingkan baju yang ia pakai dengan baju yang aku pakai. “Apa yang akan dia pikirkan jika dia tahu aku adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku menatapnya miris, selalu saja dia membuat air mataku menggenang. Tanganku terulur untuk menyapu semua debu yang mengotori wajahnya. Tenggorokanku terasa tercekat saat melihatnya masih tersenyum. “Aku tidak peduli dengan omongan siapa pun!” dia sedikit tersentak kaget karena aku membentaknya. “Kau itu adikku! Mau bagaimana pun juga penampilanmu, kau itu tetap adikku!!”

Dia tidak merespon kata-kataku malah merogoh tas yang sudah sangat lusuh dan mengeluarkan sesuatu. Mataku membulat sempurna saat dia memakaikanku sebuah topi  berwarna hitam.

“Sebentar lagi musim panas, aku rasa gege membutuhkannya,” aku hanya bisa terdiam. Lihat penampilannya, bahkan dia kesini pun tidak memakai topi dengan cuaca seterik ini. Aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk tidak memeluknya. Saat itu juga aku menangis. “Bukankah gégé pernah bilang seorang laki-laki tidak boleh menangis?” aku tidak peduli dengan kata-katanya aku hanya bisa menangis sambil memeluknya.

Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
~~

Saat pertama kali aku membawa pacarku ke rumah. Aku cukup tertegun melihat kaca jendela yang pecah sudah diganti. Rumahku yang biasanya lumayan berantakan sudah bersih dimana-mana. Aku tidak bisa menghentikan senyuman diwajahku saat aku menghampiri ibuku.

“Bu, sebenarnya ibu tidak perlu membuang waktu dan tenaga untuk membersihkan rumah kita,” ujarku sambil memeluknya dengan erat.

Tapi ibuku hanya tersenyum kecil dan berkata, “Sehun” ucapnya pelan. “Dia pulang lebih awal untuk membersihkan rumah,” aku mengerjapkan mataku sambil melepaskan rengkuhanku. “Apa kau tidak lihat luka ditangannya? Dia terluka karena memasang kaca jendela baru.”

Mendengar perkataannya aku langsung berjalan menuju kamar adikku. Saat aku masuk ke kamarnya aku langsung melihat raut wajahnya yang kusut. Aku merasa beratus-ratus jarum menusukku.  Aku keluar dari kamarnya dan mencari kotak obat.

“Kau yang membetulkan jendela itu?” dia mengangguk. Aku menarik tangannya dan mengoles sedikit salep pada luka di telapak tangannya dan membalutnya dengan kasa. “Apa itu sakit?” tanyaku heran karena dia sama sekali tidak meringis kesakitan.

“Tidak, tidak sakit,” ujarnya dengan datar. “Kau tahu gé? Ketika aku bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak mengghentikanku bekerja dan

Ditengah kalimat ia berhenti karena melihat mataku kembali mengeluarkan air mata. Aku itu kakaknya tapi kenapa lagi-lagi adikku yang harus menimpa nasib seperti ini? Harusnya aku yang menjaganya.

Waktu itu adikku berusia 23 tahun dan aku 26 tahun.
~~

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Sudah sering kali aku dan istriku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tapi mereka tidak pernah mau.

“Jika ayah dan ibumu meninggalkan desa ini, kami tidak tahu harus mengerjakan apa disana,” ujar ayahku dengan senyuman dan anggukan dari ibuku. Tapi aku tidak menyerah, namun dengan sangat halus adikku berkata, “Gé, jagalah mertuamu saja. Aku akan menjaga ayah dan ibu disini.”

Prestasiku dalam bekerja membuatku mendapatkan pangkat sebagai  direktur sebuah pabrik. Aku dan istriku menginginkan Sehun mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai reparasi. Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, entah apa yang salah ia malah mendapatkan sengatan listrik dan terjatuh. Untung saja rekannya membawanya langsung ke rumah sakit.

“Mengapa kau menolak menjadi manager?” keluh istriku saat kami menjenguknya.

Melihat gips putih pada kakinya aku menatapnya dengan tajam. “Kau tahu? Manager tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini,” adikku hanya menatapku tanpa ekspresi. “Lihat dirimu sekarang, luka yang kau dapatkan begitu serius.”

“Mengapa kau tidak mau mendengar kami sebelumnya Sehun-na?” tanya istriku dengan lembut.

“Pikirkan dirimu dan kakak ipar gé kau baru saja jadi direktur dan aku hampir tidak berpendidikan. Jika aku menjadi  menejer, berita apa yang akan tersebar?” mendengar perkataannya mata istriku dipenuhi dengan air mata.

Dengan terbata-bata aku akhirnya mengatakannya juga, “Tapi, kau kurang pendidikan juga karena aku!”

“Kenapa membicarakan masa lalu?” kemudian dia menggenggam tanganku.

Yah~ saat itu dia berusia 26 dan aku 29.
~~

Akhirnya waktu itu tiba, adikku kini berusia 30 tahun ketika ia menikahi seorang gadis petani dari desa kami.

Dalam acara pernikahan adikku, pembawa acara dalam pernikahannya bertanya padanya. “Siapa yang paling kau hormati dan kasihi?”

“Kakakku.” Tanpa berpikir panjang dengan spontan dia menjawab. Ia melanjutkan dengan sebuah cerita yang bahkan tidak dapat aku ingat. “Dulu ketika kami masih SD, sekolah kami berada di desa yang berbeda. Setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, aku kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari miliknya.  Dia rela hanya memakai satu sarung tangan dengan berjalan sejauh itu. Ketika sampai di rumah, tangannya begitu gemetar karena cuaca yang begitu dingin sampai-sampai dia tidak dapat memegang sumpit. Sejak hari itu aku bersumpah. Selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya padaku. Seolah kerongkonganku mengering dengan susah payah akhirnya aku mengucapkannya, “Dalam hidupku, orang  yang seharusnya selalu aku ucapkan terimakasih adalah adikku.” Dan dalam moment yang paling indah untuk kami semua. Tepatnya di depan seluruh tamu pernikahan adikku. Air mataku kembali mengalir melintasi kulit wajahku seperti sungai.

END.OVER
~~

Gimana? Gimana?

Oke gimana menurut kalian? Kurang greget yah? Soalnya versi originalnya, kakaknya perempuan bukan laki-laki.

posted under , | 0 Comments

APA YANG PALING DIINGINKAN MANUSIA





Setelah saya membaca beberapa buku, akhirnya saya menemukan jawabannya. Manusia tentu memiliki keinginan yang sangat banyak bahkan tak terhitung jumlahnya. Tapi setelah dirangkum di dalam satu buku berjudul How to Win Friends and Influence People karangan Dale Carnegie. Hal yang paling diinginkan manusia terdapat delapan hal.

  1. Kesehatan dan pemeliharaan kehidupan
  2. Makanan 
  3. Tidur
  4. Uang atau benda-benda yang dapat dibeli dengan uang
  5. Kehidupan di alam baka
  6. Kepuasan seksual 
  7. Kesahteraan anak-anak kita  
  8. KEBANGGAAN SEBAGAI ORANG PENTING




Kenapa saya buat capital bahkan sampai dibold segala? Karena hal yang paling terakhir adalah hal yang paling sulit di dapatkan. Kenapa? Selain alasan klasik tidak dapat dibeli dengan uang tentunya. Nomor ke delapan ini adalah hal yang sangat jarang dilakukan orang lain kepada kita.

Ada satu hal yang membuat saya teringat dengan teman saya yang biasa saya panggil Aoi. Dulu dia pernah bercerita kepada saya tentang temannya yang bernama Xiao tapi biasa dia panggil Kirei padahal dia seorang laki-laki. Kurang lebih isi cerita yang dia bicarakan seperti ini.

“Ketika kita sedang bersama, saya selalu membuat Xiao bercerita banyak hal sama dengannya yang selalu terlihat penasaran dengan cerita saya. Tapi dalam beberapa waktu saya lebih suka mendengarnya bercerita dibandingkan saya yang bercerita. Kalau diingat-ingat saya selalu merasa kalau saya itu orang yang membosankan karena membiarkan dia yang terus bercerita. Toh, pada dasarnya saya sangat tertarik dengan semua pengalamannya dan saya masih ingat apa saja yang dia ceritakan.


Suatu ketika saya bertemu dengan teman yang tidak dekat dengan saya tapi dekat dengan Xiao. Dia duduk disamping saya dan berkata, “Tau gak Xiao sering bilang, kamu itu satu-satunya perempuan yang bisa dia ajak ngobrol banyak hal.” Saya bingung dengan perkataannya dan hanya tersenyum. “Dia juga bilang dia paling nyaman bicara sama kamu.” Lagi-lagi saya mengangguk. Saat perempuan itu pergi saya terdiam cukup lama. Apa yang membuat dia merasa nyaman dengan saya? Bahkan setiap bersama saya, saya sangat jarang mengucapkan sesuatu bahkan saat dia mengeluh saya hanya mengelus punggungnya tanpa memberikan kata semangat atau menasehatinya.”

Ternyata jawabannya cukup singkat bahkan terdengar sederhana, cukup menjadi pendengar yang baik. Sayang menulisnya tidak semudah mengatakannya. Karena untuk menjadi pendengar yang baik berarti kita harus menghilangkan ego kita untuk menyela pembicaraannya.

Karena memang pada dasarnya kita hanya memikirkan diri kita sendiri. Jangan membandingkan kalimat saya dengan berapa nominal yang kita keluarkan saat memberi sumbangan kepada kaum miskin. Cukup dengan setiap kita berbicara dengan orang lain di telfon kita akan tahu. Kata apa yang paling banyak diucapkan oleh kedua orang tersebut? Jawabannya kata pengganti orang pertama “saya, saya dan saya.” Tidak hanya kalian bahkan saya sendiri juga ingin diakui dan ingin seseorang tertarik dengan apa yang saya minati. Tapi toh siapa yang peduli? 

Kebetulan saat menulis artikel ini saya sudah menghitung jumlah kaya "saya" sebanyak 58 kata.

Saya ingat kejadian yang cukup membuat saya kesal sekaligus ingin terkikik geli. Kami berdua sama-sama penyuka musik. Dia seorang gadis yang pernah mengikuti beberapa lomba kesenian mau pun akademik.  Saya cukup mengerti ketika dia bilang, “Saya yakin saya bisa melakukan semuanya, karena saya mampu untuk melakukannya,” terdengar sombong? Ya awalnya saya juga berpikir seperti itu. Tapi toh wajar dia mengatakannya. Hanya saja ingat satu hal di dunia ini tidak ada yang sempurna.

Saat itu dia memberikan sebuah cerpen dan saya mengkritiknya sebagai seorang pembaca. Walau pun saya sering menulis fanfiction tetap saja saya seorang amatiran. Saat itu saya menemukan raut wajahnya yang tidak senang. Ah~ saya saat itu lupa dengan perkataan Hans Selye “Kehausan kita akan persetujuan sama besarnya dengan ketakutan kita kepada kritik” padahal sudah saya garis bawahi dengan spidol pink agar terlihat mencolok dari stabilo berwarna kuning.

Sudah beberapa bulan kami masih berteman baik. Dia selalu membanggakan adiknya yang pandai menyanyi dan menari. Ketika itu saya teringat dengan seorang penyanyi asal negri gingseng. Yah~ penyanyi disana itu terkenal cukup buruk dalam pelafalan bahasa inggris. Ketika saya menemukan seorang penyanyi yang bisa mengucapkan kalimat dalam bahasa inggris dengan fasih membuat saya sangat tertarik.

Dengan semangat saya ceritakan padanya sampai-sampai kita masuk ke dalam cafe. Saya masih saja bercerita, bagaimana saya mengagumi artis tersebut. Apa tanggapannya yang dia tunjukan pada saya? dia hanya mengangguk sampai seorang pelayan memberikan sebuah buku menu. Saat saya ingin menunjukkan videonya saya sedikit kebingungan karena saya lupa membawa headset.

“Kamu bawa headset?” dia mengangguk.

“Ah! Kalau gitu pake headset kamu aja, biar kedengeran.”

Dia yang sibuk dengan menu dihadapannya tiba-tiba berkata dengan santai. “Gak usah deh, males ngambilnya.”

JLEB!

Hahahahahahha.. Itu memang menyebalkan tapi lagi-lagi saya teringat dengan kata-kata Dale Carnegie. “Mengapa harus membicarakan tentang apa yang kau inginkan? Itu kekanakan. Absurd. Tentu saja. Anda berminat dengan hal-hal yang Anda inginkan. Anda akan selamanya berminat terhadap hal itu. Tapi tak seorang lain pun yang berminat. Kita semua persis seperti anda : kita berminat terhadap apa yang kita inginkan

Saya menyimpulkan beberapa hal. Terkadang salah satu penghargaan yang lebih berarti ketimbang tropy mau pun nobel adalah ketika dalam sebuah diskusi orang itu tertarik dengan apa yang kita katakan.  Ketika orang tersebut tersenyum tulus saat keberhasilan kita. Ketika orang itu ingat dengan hari ulang tahun kita. Ketika orang itu dapat menyebutkan nama lengkap kita tanpa merasa kesulitan saat mengucapkannya. Bahkan ketika semua orang mencibirmu, orang tersebut memberikan senyuman tulus tanpa mengharapkan apa pun.

Oia, satu lagi mau tahu bagaimana membuat seseorang menghindari Anda dan menertawakan Anda di belakang Anda, atau bahkan merendahkan Anda, ini resep yang diberikan oleh Dale Carnegie: Jangan pernah mendengar siapa pun dalam waktu yang lama. Bicaralah tanpa putus-putus tentang diri Anda. Kalau Anda mempunyai ide tatkala orang lain sedang berbicara, jangan tunggu dia sampai selesai, segera saja potong ditengah kalimatnya.

posted under | 0 Comments

RAYUAN SEDERHANA



Sebenarnya kejadian ini sudah terjadi selama enam tahun yang lalu. Kenapa aku menceritakannya kembali? Aku teringat curhatan adikku dan pada saat aku membaca buku How to Win Friends and Influence People karangan Dale Camegle. Di dalam bukunya terdapat dua paragraph yang membuat aku tertawa kecil padahal sama sekali tidak lucu dan sang penulis juga tidak bermaksud untuk melucu.

“Mengapa harus membicarakan tentang apa yang kau inginkan? Itu kekanakan. Absurd. Tentu saja. Anda berminat dengan hal-hal yang Anda inginkan. Anda akan selamanya berminat terhadap hal itu. Tapi tak seorang lain pun yang berminat. Kita semua persis seperti anda : kita berminat terhadap apa yang kita inginkan.
Jadi, satu-satunya cara di bumi ini untuk mempengaruhi orang lain adalah berbicara tentang apa yang mereka inginkan dan tunjukkan kepada mereka bagaimana memperolehnya”


 Dulu aku memilih SMP disalah satu sekolah berasrama atau lebih tepatnya pesantren. Tidak ada yang membujukku waktu itu karena pada saat sekolah dasar aku cukup bosan dibanding-bandingkan dengan kakakku yang berbeda enam tahun. Dari situ aku berniat untuk memilih sekolah yang berbeda dengan kakakku. Bagaimana pun caranya.

Ah! Aku lebih suka menyebutnya sekolah berasrama mungkin karena nilai-nilai pesantren di dalam diriku berkurang hahahahaha. Tapi toh nama sekolahku pun Babussalam Boarding School (read. BBS).

Setelah aku lulus dari sekolah asrama itu aku memilih untuk melanjutkan sekolah di salah satu SMA negri di Bandung. Perbedaan tiga tahun membuat adikku harus memilih sekolah SMP yang sesuai dengan nilainya. Melihat peningkatanku dalam belajar (mungkin) kedua orangku memutuskan untuk menyekolahkan adikku disekolah yang sama.

Pesantren, berasrama, peraturan yang ketat, tidak bisa menonton tv, tidak bisa membawa ponsel (walau pun pada saat itu aku merasa memang tidak membutuhkan ponsel), melakukan rutinitas yang sama berulang kali.

Butuh banyak rayuan untuk membuatnya mau kesana. Adikku sempat menggerutu padaku karena aku hanya diam saja melihat kakak dan orang tuaku merayunya.

“Kan, nilaimu tidak sampai untuk masuk ke dalam SMP negri lebih baik memilih sekolah seperti Mba Lian saja,” – kakak sulungku  yang terkenal dengan kata-kata sadisnya.

“Nanti kalau sudah lulus kamu boleh bawa motor atau mungkin mobil,” – mamaku yang selalu merayunya dengan barang-barang. Dan hebatnya setelah lulus SMP dia benar-benar diizinkan untuk mengendarai mobil.

“Nanti kalau papa meninggal siapa yang bisa mendo’akan papa? Kan kamu satu-satunya laki-laki dirumah ini,” – ayahku yang memang sangat taat beragama, ekstrim memang tapi cukup membuat kami merinding terutama adikku. “Kamu bisa mengerti apa gunanya tahajud dan banyak berzikir.”

Yah~ aku mengerti maksud ayahku, buat ayah tujuan pertama agar adikku sekolah disana setidaknya dia bisa shalat lima waktu tanpa ada satu pun yang bolong. Aku yang pada saat itu sibuk mencari SMA hanya diam saja. Toh, aku bisa masuk ke mana saja. Tapi, sialnya aku hanya bisa memilih SMA yang dekat dengan rumah di Lembang. Awalnya aku ingin mencoba mencari SMA yang jauh dari rumah. Tapi karena ibuku takut terjadi apa-apa pada anaknya. Akhirnya aku mengalah dan memilih SMA Negri 15 Bandung.

Penerimaan SMA lebih cepat dibandingkan SMP dan aku tidak kaget saat sebuah pesan memberitahukanku bahwa aku siswa ke-15 dengan total 405 siswa yang masuk ke dalam SMA Negri 15 Bandung. Terdengar sombong ya? Hahahahahaha

Setelah menerima pesan itu kedua orang tuaku bisa bernafas lega tapi tiba-tiba ayahku menarikku dan memintaku untuk mengobrol tentang sekolah asramaku dulu. Dengan jujur aku bilang, aku bahkan sempat ingin meminta kedua orang tuaku untuk memindahkanku dari sekolah itu. Kau tahu? Sempat beberapa bulan aku mendera Home Sick.

“Oia, kenapa gak bilang?” tanya ibuku dengan nada ragu setelah mendengar ceritaku.

Aku menatap ibuku dengan pandangan malas. “Kalau aku bilang aku yakin 100% kalian gak akan pernah mau memindahkan aku ke sekolah lain,” jujur saja, aku sudah cukup mengenal dengan kebiasaan orang tuaku. Dan aku hanya mendapatkan sebuah kikikan kecil dari ayahku.

“Kalau gitu, Lian tahu gak cara buat Naufal mau masuk BBS?”

Melihat tatapan kedua orang tuaku aku hanya mengangguk dan berkata, “Kalau dia makin gak mau jangan salahin Lian.”

Adikku memang saat itu sedang senang-senangnya melihat orang bermain gitar. Tidak jarang dia merayu ibuku untuk mengikuti kelas gitar. Tentu saja ibuku tidak akan pernah mengabulkannya. Kursus music kan cukup mahal.

Pada malam itu adikku masuk ke kamarku dan bercerita kalau dia memiliki teman yang jago memainkan gitar. Aku teringat beberapa temanku yang juga jago bermain gitar. Mungkin karena pada saat di asrama kami tidak boleh bermain game atau membawa barang elektronik apa pun. Maka teman-temanku  dan kebanyakan laki-laki lebih suka bermain gitar untuk menghilangkan kebosanan.

“Kenapa gak sekolah di BBS aja?” tanyaku tiba-tiba. Adikku merenggut dengan kesal karena aku merusak ceritanya tentang gitar.

“Pasti ngebosenin!” aku mengangguk dengan pendapatnya. “Kenapa mba mau sekolah disana?”

“Biar bebas dari rumah tapi malah terperangkap di penjara suci,” perkataanku malah membuatnya semakin tidak mau masuk sekolah yang sama denganku. “Tapi aku suka disana karena banyak teman juga.” Walau pun kami sibuk dengan aktifitas masing-masing setidaknya setahun sekali kami akan mengadakan reuni. Tiga tahun bersama membuat kami mengenal satu sama lain.

“Tuh kan! Aku gak mau ah!” aku tertawa melihatnya yang terlihat gusar. “Apa bagusnya pesantren?”

“Katanya pengen bisa main gitar?” pertanyaanku jelas membuatnya bingung. Apa hubungannya pesantren dengan gitar. “Mau taruhan? Tiga bulan kamu sekolah disana kamu langsung bisa bermain gitar tanpa perlu kursus!”

“Iya gitu?” aku mengangguk untuk meyakinkannya. Dia sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk menerima tantanganku. “Kalau aku bisa, mba mau minta apa?”

“Kamu harus bisa mainin lagu Sempurnanya Andra & The Backbone, gimana?” dia mengangguk dengan bingung. Mungkin aneh dengan permintaanku.

“OKE!!” ujarnya dengan semangat.

Dan voila! Besoknya dia mengambil kertas pendaftaran BBS dan meminta kakakku untuk mengisinya. Kakakku dan orang tuaku cukup kaget melihat perubahan adikku. Sedangkan aku dan adikku hanya tertawa melihat reaksi mereka.

Hasilnya?  Tiga bulan kemudian dia benar-benar bisa memainkan gitar dan memenuhi hukumannya dariku. Hahahahaha.. Lucu memang.

Sekarang, adikku duduk dikelas tiga SMA sedangkan aku melanjutkan kuliah disalah satu universitas yang tidak pernah aku bayangkan. UNPAD. Karena dia bisa mengendarai mobil kadang aku memintanya untuk menjemputku jika aku ingin pulang ke rumah.

Karena dia baru pulang dari les maka mau tidak mau kami pulang pada saat malam hari. Di mobil kami mendengar lagu band indi yang lebih dominan diiringi gitar di salah satu saluran radio lokal. Tiba-tiba adikku tertawa kecil.

“Kenapa?” tanyaku bingung dia malah menggelengkan kepala dan fokus menyetir mobil. “Heh! Ketawa sendiri bikin orang takut!”

“Inget gak kenapa aku mau masuk ke BBS?” aku mengerutkan dahi dengan bingung. “Gara-gara denger rayuan kamu itu loh!” katanya sambil tertawa. “Aku gak akan pernah mau masuk BBS kalo mba gak ngerayu  aku trus bilang aku bakalan bisa main gitar.”

Aku ikut tertawa mendengar ceritanya. “Tapi emang langsung bisa kan?” dia mengangguk dengan semangat. Bahkan sekarang dia memiliki band sendiri di sekolahnya dan terkadang band mereka tampil dibeberapa event. Dia bahkan sudah bisa menciptakan lagu. Lagu sederhana tapi cukup enak untuk di dengar. Toh aslinya dia cukup ahli dalam membuat sebuah puisi.

Tapi dia tidak tahu, saat ayahku menanyakanku kenapa adikku langsung mau masuk BBS. Dan aku mengatakan alasannya dengan sejujur-jujurnya. Ibuku tertawa, kakakku menggelengkan kepala sedangkan ayahku menjitak kepalaku sambil memelukku.

“Berarti dia sekolah di BBS cuman buat gitar dong?” seru ayahku yang membuat kami terdiam.

Iya.. ya..

Hah! masa bodoh yang penting adikku kan sudah mau masuk BBS. Tugasku kan hanya itu. Hahahahahaha

posted under , | 0 Comments

Calon Ségur ‘04




Judul     : Calon Ségur ‘04
Gendre : Straight Romance
Lenght  : Oneshot
Author : Anemone/Anonemo
Cast       : Hwang Zhi Tao (EXO-M)
                Song Hyo Hee (OC)
Song      :  Tompi – Menghujam Jantungku


~~

Segenap hatiku selalu memujamu
Seluruh jiwa ku persembahkan untukmu
Sepenuh cintaku merindukan dirimu
Seutuh gejolak membakar hatiku

Lima menit sekali namja yang terlihat menyeramkan karena tatapan matanya yang tajam, mengalihkan tatapannya pada jam tangannya. 10.43 PM. Dengam gelisah dia kembali menatap sekelilingnya berharap seseorang yang dia tunggu datang. Mungkin sudah puluhan atau ratusan kali dia mengirim pesan pada orang tersebut tapi tidak ada balasan sama sekali. Ditelfon? Sudah pasti tidak diangkat.

“Huft~” menghela nafas yang hanya bisa dia lakukan. Dia menatap nanar sebuah koper tanpa roda yang sudah dia siapkan.

Jangan bertanya kenapa segala sesuatu yang dipakainya dominan bermerk Gucci.  Fashion tidak hanya dimiliki oleh kaum hawa kan?

Suara operator bandara kembali terdengar memberitahunya bahwa 20 menit lagi pesawat dari Seol menuju Qingdao akan lepas landas. Dengan berat hati dia mengambil kopernya dan berjalan berlawanan arah dengan pintu boarding dan para petugas boarding pass.

Tsk, dia tidak mungkin menemui orang tuanya di China sendirian. Sepertinya nanti dia perlu menelfon atau mengirim pesan singkat pada orang tuanya kalau dia lagi-lagi tidak bisa mengunjungi mereka dan memberikan kejutan yang selalu dia janjikan.

“Tao..”

Namja bermata panda itu sejenak menghentikan langkahnya namun dia memilih menggelengkan kepala. Menganggap itu hanya suara hayalannya.

“Tao!!”

Dia kembali berjalan walau pun sebenarnya suara itu semakin keras dan sepertinya semakin dekat dengannya.

“Hwang Zhi Tao!!” kini ia mengelus tengkuknya dengan kaku.

“Ck, efek terlalu merindukannya aku menjadi mendengar suaranya terus,” gumamnya dengan langkah yang semakin lama semakin pelan.

“HWANG ZI TAO!!” bukan hanya suara tapi juga sebuah benturan keras antara kepalanya dan tas seseorang membuatnya langsung membalikkan badannya.

“Arght!” Refleks ia menggeram karena sakit sambil mengelus kepalanya sendiri.

Deg!!

“Hyo Hee..” namja yang biasa dipanggil Tao hanya menatap yeoja dihadapannya dengan terkejut. Dia menemukan yeoja yang selama ini sangat susah ditemuinya dengan jantung berdegup kencang. Berbanding terbalik dengan yeoja dihadapannya yang terlihat terengah-engah dengan koper besar berwarna orange ditangan kirinya.

“Kau.. enght~ dari  tadi aku panggil kena?” Hyo Hee langsung membelalakan matanya ketika namja dihadapannya langsung memeluknya dengan erat.

Wo jue bu neng shiqu ni..” Hyo Hee mengerutkan dahinya bingung. Dia mengerti bahasa china tapi dia tidak terlalu lancar mengunakan bahasa china. Kurang lebih arti yang dia tangkap adalah aku tidak bisa kehilanganmu..

“Aku disini..”

Hyo Hee bisa merasakan Tao tersenyum di bahunya. Hingga, suara operator kembali mengingatkan mereka kalau pesawat menuju Qingdao akan berangkat. Hyo Hee langsung mendorong Tao dan melepas pelukannya dengan paksa.

“AYO CEPAT!!” seru Hyo Hee sambil menggenggam tangan Tao dan menariknya dengan terburu-buru. “AKU TIDAK MAU MENUNDA INI LAGI!!” pekikan gadis itu malah membuat Tao tertawa dengan keras. Melihat gadisnya kesusahan menarik koper, dengan santai Tao mengambil koper gadis itu dan membawanya bersamaan dengan tasnya.

Deru nafas lega sekaligus lelah terdengar dari satu pasangan yang menghepaskan tubuhnya diatas kursi penumpang kelas eksekutif. Saat mereka sibuk memegang dada dan berusaha menstabilkan nafasnya yang terengah-engah. Suara tawa Tao membuat Hyo Hee menatap namjanya dengan bingung.

“Hah~ akhirnya..” gumam Tao lalu menatap Hyo Hee sambil menunjukkan senyumannya yang kadang terlihat kekanakan. “Ni xiang nian wo ma? (apa kau merindukanku?)

Hyo Hee terdiam dan mencerna perkataan Tao sebelum akhirnya dia berkata. “Zhen de hen xiang nian ni (merindukamu, sangat..)”

Tao menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan menyelidik. “Pian ren! (bohong)” Jelas, Hyo Hee menatap Tao dengan kaget. Meskipun tatapan Tao terlihat tajam tapi setelah mendengar suaranya kau akan berpikir dua kali untuk mengatakan kalau dia namja yang dingin. “Wei shen me ni bu gei wo da dian hua? (kalau begitu kenapa kau tidak menelfon ku?)

Kini Hyo Hee yang tertawa keras dan membuat Tao sedikit kesal.

“Jadi selama ini kau menunggu aku menelfonmu?” Hyo Hee masih bertahan dengan tawanya yang akhirnya membuat Tao mencubit pipinya dengan kesal.

“Setiap aku telfon kenapa kau tidak menjawabnya?” ujarnya masih dengan nada kesal bercampur gemas.

“Aish! Kau kan tahu aku..” Hyo Hee menggantungkan kata-katanya dan memandang Tao dengan waswas.

“Sibuk.”

“…”

“Aku tahu, kau Song Hyo Hee seorang penyanyi solo yang sedang naik daun dan dipenuhi berbagai job,” perkataan Tao belum selesai. “Bahkan untuk berlibur pun kita harus mengambil jam tengah malam karena takut dikejar-kejar fansboymu yang ganas.”

Entah perasaan Hyo Hee saja atau memang kenayataannya Tao seperti menyindirnya dengan sebuah pujian.

Duibuqi..” lirihnya yang membuat Tao mengerutkan dahi dengan bingung.

“Kenapa meminta maaf?” tanya Tao dengan heran.

“Perkataanmu seperti menyindirku.”

“Memang.”

Raut wajah Hyo Hee langsung berubah menjadi lebih suram. Ah~ Tao lupa, kalau mereka berdua memiliki karakter yang hampir sama. Sama-sama mudah sakit hati hanya dengan sebuah perkataan.

“Hei, kita mau liburan kenapa kau memasang wajah suram seperti itu?” Hyo Hee hanya menatap Tao dengan kesal dan memalingkan wajahnya. Tao berdecak dan menggelengkan kepala dengan pelan, kalau sudah seperti ini sangat sulit untuk membujuknya. “Aku tidak bermaksud menyindirmu tadi..”

Peraturan yang sudah permanen di otaknya, jika terdapat masalah di dalam sebuah hubungan maka seorang pria harus mengalah bukan?

“…”

“Kau ingat saat pertama kali kita bertemu?”

“…”

Hyo Hee tidak menjawab begitu pun Tao yang juga tidak berniat untuk menceritakannya. Mereka berdua hanya terdiam cukup lama lalu saling berpandangan. Suasana yang sempat dingin kembali menghangat karena keduanya kini memberikan seulas senyum tulus. Bersyukur dulu mereka sempat bertemu.
~~

Flash back: on

Seorang gadis dengan dress hitam bercorak lily putih memasuki sebuah bangunan berarsitektur eropa klasik. Jika orang lain mengedarkan pandangannya untuk memilih kursi maka gadis ini memilih terus berjalan tanpa mempedulikan sekelilingnya.

"Ada yang bisa saya bantu?" ujar seorang namja dengan logat aneh. Padahal gadis ini baru saja duduk di bar stool.

Gadis ini cukup lama menatap namja dihadapannya sebelum akhirnya dia mengangguk mengerti. Sebuah namtage bertuliskan Hwang Zhi Tao, memberinya sebuah petunjuk yang membuatnya mengerti kenapa namja dihadapannya berbicara dengan logat yang aneh.

"Nona?" gadis itu meringis kecil saat namja itu menatapnya dengan sedikit tajam.

"Ah! Aku ingin mencoba wine."

"Mencoba?" tanya namja dihadapannya dengan raut wajah bingung. "Kau belum pernah meminumnya?" gadis itu mengangguk kecil.

"Apa aku perlu memberikan kartu pengenal untuk memberitahumu kalau aku sudah cukup umur?" ujar gadis itu dengan polos karena mendapatkan tatapan menyelidik dari sang bartender.

"Hahahaha.. Tidak perlu, hanya saja" Mata gadis itu menatap lekat pria dihadapannya yang sibuk mengelap gelas kristal dengan lap kering. Seketika aura menyeramkan namja itu hilang jika sudah melihat senyumannya. "Apa kau pernah minum sojo?" tanyanya dengan lembut.

Gadis itu mengangguk dengan pelan.

"Tapi aku tidak suka.. rasanya aneh.."

Tao tidak berbicara sama sekali hanya sibuk mencari sesuatu dari rak dibelakangnya yang penuh dengan botol-botol wine. Tapi pada akhirnya dia mengambil satu botol dari bawah meja bar dan membuka penyumbatnya dengan mudah. Biasanya dia akan biasa saja melihat seseorang menuangkan benda cair ke dalam gelas. Tapi kini dia tercengang karena namja dihadapannya menuangkan wine dengan sangat anggun bahkan di dalam gelas sama sekali tidak terdapat gelembung.

"Mau tahu cara menikmati wine hm..?"

"Song Hyo Hee."

"Ok, bagaimana kau tertarik Hyo Hee-ssi?"

Hyo hee mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk mengambil gelasnya. Namun dengan halus Tao menggapai tangannya. Hyo Hee merasa tangan Tao sangat dingin berbanding terbalik dengan Tao yang merasa tangan Hyo Hee sangat hangat.

"Jangan sentuh wadahnya tapi pegang tungkainya," tanpa perlu ditanya Tao menjelaskan tatapan bingungnya. "Jika kau langsung menyentuh bagian wadahnya, suhu tubuh yang disalurkan melalui tangan bisa mengubah temperature wine,” jelasnya, gadis itu mengambil gelasnya dan menunggu Tao menuangkan wine untuk dirinya sendiri. “Makannya gelas wine didesain seperti ini.”

“Bisa aku minum?” tanya Hyo Hee ragu. Dia kembali tersenyum sambil menggelengkan kepala.

“Pegang gelas wine ditangkainya lalu coba kau putar gelasnya, seperti ini,” aku mengikuti kata-katanya dan caranya memutar gelas. “Ini dinamakan proses aerasi, maksudnya agar udara masuk kedalam cairan wine. Ketikan udara masuk, maka aroma wine yang sebenarnya akan lepas.”

“Seperti ini?”

Dia menganggukkan kepala. “Sepertinya aku pernah mendengar namamu..” gumaman Tao membuat Hyo Hee sedikit gugup. “Kau penyanyi solo ya?” BINGO! Hyo Hee hanya bisa tersenyum kecil dan menunduk. Melihat suasana menjadi kaku Tao langsung berdeham dengan sedikit keras. “Ehm! Sekarang coba kau miringkan gelas ini ke arah cahaya, amati warnanya yang kekuningan. Walau pun tidak ada hubungannya dengan rasa tapi nikmati saja..”

“Ini.. White wine kan?” Tsk, Hyo Hee kira white wine hanya berwarna bening ternyata warna kekuningan dengan embun disekeliling gelas membuatnya seperti serpihan emas bercampur berlian. “Indah..”

“Sekarang kau coba hirup aromanya.”

Hyo Hee mendekatkan gelas wine pada hidungnya. “Manis,” gumamnya. Ah~ tapi dia menyadari ada aroma lain di dalamnya. “Tapi..”

“Jeruk?” Hyo Hee menatap Tao lalu kembali mencium winenya dengan lebih seksama. Kemudian dia mengangguk dan tersenyum kecil.

“Kau benar, sepertinya ada aroma asam disini.”

“Untuk membuktikannya, coba kau minum.. tapi jangan sekali teguk,” dia memperhatikan Hyo Hee yang sedang meminum wine dengan inters. Sepertinya tatapan Tao memiliki efek berlebih pada jantung Hyo Hee. “Sesap sedikit winenya lalu bawa cairannya ke atas dan ke bawah lidah. Kemudia tarik sedikit udara dari mulut agar terjadi gelembung di bawah lidah.”

“Wuah~” seru Hyo Hee dengan berlebihan. “Tidak terlalu pekat untuk lidahku, rasanya manis dan asam walau pun sedikit pahit.”

“Aku ikut senang kalau kau menyukainya.”

“Apa harus melalu  tahap yang tadi kau katakan untuk menikmati wine?”

“Tidak juga, tapi akan lebih enak untuk menikmati wine dengan cara tadi,” kini Hyo Hee memandangnya dengan kagum.

“Apa rasa wine seperti ini semua?”

Tao tergelak dan tertawa keras. “Tentu saja tidak!” ujarnya sambil memegang perut. Apa yang lucu coba? Dengus Hyo Hee dengan kesal. “Maaf.. seperti yang kau tahu wine ini berjenis white wine, ini juga wine pertamaku.” Tao memandang botol winenya sambil tersenyum.

“…”

Tao meletakkan kembali botol winenya. Dengan anggun dia menaikkan gelas winenya dan menyesapnya dengan perlahan. “Pinot Gorgio atau Agrelo. Luján de Cuyo tahun 2008 berasal dari Arghentina.” Tao mendesah kecil sambil meletakkan gelas winenya diatas meja bar. “Wine ini difermentasikan tanpa kulit dan sedikit jeruk tanah Argenthina yang tumbuh baik pada tahun itu tapi kurang baik untuk tanaman anggur. Dan Voila! Campurannya menghasilkan cita rasa wine yang baik perpaduan antara buah-buahan yang menarik. Walau pun tidak terlalu mahal dan terkenal tapi rasanya yang manis membuatnya menjadi daya tarik tersendiri.” Dia tersenyum kecil padaku. “Dan tingkat alkohol wine ini kira-kira 13,5%”

Namja dihadapannya membuatnya terperangah dengan kagum. Sebelum dia bertanya suara langkah kaki membuat keduanya mengalihkan tatapannya kepada seorang yeoja berkulit kecoklatan yang ditemani seorang namja yang juga berkulit tan. Keduanya terlihat seperti pasangan yang eksotis.

"Sepertinya ada yang sedang sibuk menjelasakan wine."

Sindiran seorang yeoja membuat Tao tertawa kecil.

"Jiéjié.." ujar Tao sambil mengulur tangannya tidak hanya itu Hyo Hee tercengang saat Tao mengecup pipi yeoja disampingnya. "Kau semakin kurus saja Lindia-jié."

Lindia hanya mengangkat kedua bahunya dan lebih memilih menengok ke arah Hyo Hee. Dia tersenyum yang Hyo Hee balas dengan senyuman kaku.

"Hai, Kai.."

"Sudah lama kita tidak bertemu," seru namja tersebut sambil duduk disamping yeoja disamping Lindia. "Jangan bilang kau merayu seorang yeoja dengan wine andalanmu.."

Meski Tao menatap Kai dengan tajam tapi semua orang bisa menemukan semburan merah dikedua pipinya.

"Apa semua bartender seperti ini?" tanya Hyo Hee yang tadi sempat tertunda karena kedatangan dua orang berkulit tan.

"Bartender? Dia?" Tanya Lindia dengan kerutan di dahi. Hyo Hee hanya mengangguk dan menatap Lindia dengan bingung. Apa ada yang salah dengan perkataannya?? "Dia bukan hanya baretender tapi Sommelier"

"Sommelier? Apa itu?"

"Seorang ahli wine." Kini Kai yang menjawab pertanyaan Hyo Hee. Saat Hyo Hee ingin menatap Tao, entah kemana namja itu malah tiba-tiba menghilang. "Hanya dengan sekali teguk namja bermata panda itu bisa mengetahui seluk beluk wine, dari cara fermentasi, jenis tanah sampai bagaimana sistem pengairan kebun anggur.”

Lindia yang berada disamping Hyo Hee terkekeh kecil melihat raut wajah gadis disampingnya yang tercengang. “Tidak hanya itu dia memiliki keahlian dalam menilai cita rasa dan merekomendasikan padanan wine dengan makanan dan keahlian ini hanya dimiliki oleh orang yang disebut sommelier.”

“Karena itu juga kami kesini, dia juga bisa dengan mudah mencampurkan bahan cake dan wine dengan baik.”

~~

Hyo Hee pov~

Semakin lama aku semakin betah datang ke tempat ini. Walau pun aku hanya meminum satu gelas wine saja tapi aku sudah merasa puas untuk selalu datang kemari. Mungkin karena disini aku bisa bertemu dengan Tao namja berkebangsaan China. Atau mungkin aku sudah terjerat pada pesona namja bermata panda itu..

Aku mengeluh kecil saat menemukan bar stool sudah dipenuhi orang. Mau tidak mau aku hanya bisa duduk disalah satu meja bundar yang dikelilingi kursi dan menatap Tao. Aku lebih suka mengajaknya bicara dari pada memandangnya dari jauh. Tapi— aku tidak menemukannya disini.

“Mencari Tao-hyung?” tanya Zelo namja yang umurnya 3 tahun lebih muda dariku sambil tersenyum jahil. Aku hanya mengangguk. “Dia sedang pergi mengantarkan wine untuk Coffee House. Ah— aku hampir lupa kalau Tao juga merupakan salah satu pembuat cake disana. Lindia dan Kai juga termasuk orang yang berpengaruh di Coffe House. Setahuku sih seperti itu.

Saat aku ingin menanyakan sesuatu, tiba-tiba terdengar sebuah keluhan yang berasal dari meja disebelahku.

“Pahit~” keluh seorang namja sambil menjauhkan gelas wine dari mulutnya. Dengan cepat Zelo mendatangi meja disampingku dengan raut wajah cemas. Yah~ walau pun dia terlihat kuat bahkan terkesan bad boy tetap saja jika dihadapi dengan wine dia masih amatiran.

“Kau sepertinya salah memberikan kami wine,” ujar seorang gadis berkebangsaan Jepang sambil tersenyum lembut. Zelo hanya mengelus tengkuknya dengan gugup. “Kami memesan Henri Jayer Vosne-romanee ’85 dari sebulan yang lalu.”

Satu lagi terkadang untuk wine mahal dan langka mereka memang harus memesannya terlebih dahulu.

“Zelo..” suara lembut itu membuat kami mengalihkan tatapan kami pada namja yang memiliki tindik di telinga kanannya. “Ada apa?”

Zelo membisikkan sesuatu pada Tao.

“Bawakan decanter,” Zelo hanya mengangguk dan berjalan menuju bar. Decanter itu semacam tabung yang memiliki leher panjang dan ramping sedangkan dibawahnya terdapatkan lengkungan besar. Alat ini berfungsi agar endapan wine dalam botol tidak ikut tercampur dengan cairannya. Selain wine diminum bersih dari ampas alat ini juga meningkatkan aroma wine.

“Maafkan kami hyung..” ujar Tao dengan raut wajah bersalah. Namja dihadapannya yang tadi mengeluh pahit hanya tersenyum lembut. “Aku malah mengecewakan hyung padahal Hana baru saja kembali dari Jepang.”

Saat Zelo kembali dan Tao bermaksud menuangkan wine ke tempat yang bernama decanter tangannya terhenti dan mengambil gelas wine milik namja yang memiliki angelic smile. “Hah~ pantas saja..” dia mengambil sumbatan dari botol wine tersebut. “Wine ini rusak karena tersumbat.”

“Pantas saja tercium bau busuk.”

“Maafkan aku Junmyeon-hyung.” Lirih Tao pelan.

“Tapi.. bisakah kau memberikanku wine yang sebanding?” ujar Hana dengan cemas berbanding terbalik dengan Junmyoen yang menampakkan aura suram.

Tao cukup lama terdiam sampai akhirnya tersenyum dengan pelan. “Tunggu sebentar..”

Saat Tao melangkah melewatiku dia berhenti sejenak dan membalikkan badannya. “Kau sendirian?” aku mengangguk pelan. “Bagaimana kalau kau bergabung dengan Junmyeon-hyung dan Hana.”

Aku hanya diam tidak berniat untuk menerima tawarannya bahkan Tao pun sudah pergi menuju pintu gudang wine. Saat aku menatap kedua pasangan itu aku menemukan senyuman keduanya yang ditujukan padaku.

“Kau Song Hyo Hee kan?” tanya gadis kebangsaan Jepang itu sambil tersenyum. “Mau bergabung bersama kami?” tawaran yang mengiurkan memang tapi­— aku tidak mau merusak kencan seseorang.

“Tao banyak bercerita tentangmu,” kata yang baru keluar dari mulut namja berambut coklat membuatku terperangah. “Maaf ketidak sopanan kami, seharusnya kami memperkenalkan diri kami dahulu kan?”

Perkataannya Junmyeon mau tidak mau membuatku tertawa kecil dan beranjak dari kursiku untuk duduk dihadapan mereka berdua.

Kami menunggu cukup lama setelah acara kenalan dan basa-basi yang lumayan menyenangkan. Akhirnya Tao kembali dengan sebuah botol wine ditangannya. Tapi ada yang janggal kenapa Tao menutup botol winenya dengan sebuah saputangan putih.

Baru saja Tao membuka penyumbatnya, Junmyeon tiba-tiba berkata. “Tsk, padahal wine yang kau pesan lumayan mahal kan?” keluhnya sambil meremas tangan Hana. “Sayang sekali kalau rusak.”

“Kau tahu wine kenakalan dewa hyung?” tanya Tao sambil tersenyum kecil dan menuangkan wine yang baru dia bawa ke dalam decanter dengan anggun. Jarak antara wine dan decanter sangat tinggi, lagi-lagi yang membuatku aneh tidak ada satu pun gelembung yang keluar dari dalam decanter dengan cara menuang setinggi itu. “Kau akan tahu kenakalan macam apa yang dia ciptakan setelah merasakannya.”

Junmyeon sempat merasa ragu saat mengambil gelasnya yang sudah terisi wine yang dituangkan oleh seorang sommelier. Ah— aku hampir lupa ciri-ciri seorang sommelier itu cukup mudah, kau tinggal melihat apa seragam yang digunakan memiliki pin berbentuk anggur berwarna perak. Sebenarnya tidak hanya pin berbentuk anggur banyak bentuk dan jenisnya hanya saja aku hanya tahu hal itu saja.

“Woaaah..” seru Junmyeon dengan kagum. “Kalian harus mencobanya,” ujar Junmyeon dengan semangat. Tao hanya tersenyum kecil menuangkan wine dari dalam decanter ke dalam gelas kami. Apa aku juga harus mencobanya?

Aku menatap decanter dengan lekat. Masalahnya warnanya terlalu pekat untukku.

“Coba saja..” ujar Hana saat melihatku hanya menatap gelasku. “Cukup cicipi saja.”

“Eh?” seruku dan dengan ragu aku meminumnya. Sial~ ini terlalu pekat..

“Kenapa?” tanya Junmyeon heran melihat reaksiku.

“Ini terlalu rumit untukku,” ujarku pelan. Aku kan masih pemula. “Yang aku tangkap ada rasa strawberry..”

“Lalu?”

“Hm..” aku kembali mencicipi wine dihadapanku. “Aku seperti melihat seseorang berdiri di ladang strawberry,” bukan.. lebih tepatnya aku seperti melihat Tao berdiri disana membelakangiku. Kemeja putih dan celana hitam panjang. Berbaliklah.. Aku mohon.. Dan.. Saat dia berbalik aku menemukannya memakai kemeja putih berlengan panjang dengan dua kancing teratas terbuka. Sekelebat aku langsung menyadari mawar merah tua bermekaran disekelilingnya. Dari tubuhnya menguar aroma manis dari sirup maple. Tidak— bukan hanya itu. Bahkan bayanganku menemukan kau mendekatiku, menarik daguku dan mengecup bibirku dengan sangat lembut.

Aku langsung mendongakkan kepalaku dan menatap Junmyeon, Hana dan Tao yang tersenyum ke arahku. Tanpa sadar wajahku memerah..

“Bagaimana?” tanya Junmyeon sambil menaruh sikunya pada meja untuk menenggerkan dagunya pada telapak tangannya. Aku cukup terperangah mendapatkan namja yang selalu tersenyum lembut tiba-tiba menunjukan seringainya.

“Ini— terlalu eksotis bahkan terlalu.. ehm..” sensual untukku. Aku tahu mereka pasti mengerti maksudku.

“Tapi— kau yakin ini bukan Vosne-romancenya Henri Jayer?” tanya Junmyeon pada Tao. Entah kenapa aku merasa lega mendapatkan Junmyeon tidak lagi menatapku.

Tao tidak perlu menjawab hanya perlu membuka kain yang membungkus botol tersebut. “Vosne-romanee les reignots syvain cathiard ’99 dari Emmanuel Rouget.”
“HAH?!” suara pekikan Junmyeon dan Hana hampir membuatku memuntahkan jantungku sendiri.

“Aku tidak tahu kalau Emmanuel Rougest memiliki karya yang sebanding dengan pamannya?” ujar Junmyeon dengan kagum. Aku bahkan menemukan tatapan berbinar dari mata Hana. Memangnya siapa Henri Jayer dan Emmanuel Rougest? “Aku memang sempat mendengar kalau dia penerus Hanri Jayer tapi bukankah kemampuannya tidak sebanding?”

Sebelum menjawab pertanyaan Junmyeon, Tao lebih memilih duduk disampingku dan menatap Junmyeon sambil tersenyum kecil. “Kau tahu hyung? di Burgundy Prancis kabarnya wine tahun ‘99 karya Emmanuel Rouget dibuat oleh Henri Jayer pencipta Crox parantoux.”

“Maksudnya?” kini Hana yang menatap Tao dengan lekat.

“Yah~ kesehatan Rouget memburuk dan kondisinya tidak memungkinkan untuk membuat wine pada tahun ‘99 berbanding terbalik dengan pamannya Henry Jayer yang walau pun sudah berusia 80 tahun dia masih berdiri dengan prima oleh karena itu dia meneruskan pembuatan wine sebagai pengganti Rouget.” Dia mengangkat bahunya dan menuangkan wine itu pada gelasnya sendiri dan menyesapnya dengan penuh penghayatan. “Aku juga awalnya tidak percaya tapi setelah mencobanya aku baru percaya.”

Terpesona.. itu yang aku pikirkan tentangnya.

Dia terkekeh kecil saat menemukanku menatapnya dengan lekat. “Ini adalah buatan dewa, ah~ bukan, wine ini  lahir dari kenakalan dewa.”

“Kau romantis juga..” perkataanku jelas membuat Junmyeon tertawa keras.

“Bukan aku tapi Hana,” ujarnya sambil terkekeh kecil. “Dulukau tahu aku hampir gila saat dia memberikan wine ini saat aku meminta  jawaban atas lamaranku.” Sekilas aku bisa menebak kini lengan Junmyeon melingkat dipinggang Hana yang sedang menggunakan dress hijau toska A line berbahan sutra. “Tao itu penuh kejutan ya?” ujar Junmyeon sambil menyelipkan rambut panjang Hana yang berwarna kecoklatan dibalik telinganya tapi matanya menatapku dengan lekat.

“Eh?”

“Siapa?” tanya Junmyeon sambil tersenyum kecil.

“…”

“Siapa yang kau bayangkan tadi?”

Tanpa sadar aku langsung menatap Tao yang juga sedang menatapku. Bodoh~ aku hanya bisa merutuki daya refleksku saat menemukan raut wajah terkejut dari Tao.
~~

Tao pov~

Sudah sebulan semenjak peristiwa kenakalan dewa terjadi. Sampai saat ini aku tidak pernah melihat Hyo Hee datang kesini. Boleh tidak aku berharap kalau Hyo Hee sebenarnya memang sedang membayangkanku saat meminum wine pilihanku untuh Junmyeon dan Hana?

Atau mungkin karena karirnya yang semakin meningkat, dia jadi malas datang kesini. Tsk, butuh pertanyaan jebakan untuk membuatnya mengaku kalau dia memang seorang penyanyi. Dulu aku memang tidak terlalu suka lagu mellow berkat jasanya aku mejadi tertarik dengan lagu mellow itu pun kalau dia yang menyanyikannya. Dimana sih gadis itu?

“Hyung..” suara teguran Zelo membuatku terbangun dari lamunanku.

“Ya?”

“Ada paket..” ujarnya sambil menaruhnya dengan hati-hati di atas meja bar. “Sepertinya ini wine.”

Aku membuka bungkusnya dengan perlahan. “Ini apa?”

“Châteaun Calon Ségur buatan Saint-Estèphe setahuku itu wine wilayah Bordeaux dari Perancis. Berasal dari Grand Cru Class Vintage tahun 2004” Aku menatap Zelo dengan malas.

“Semua orang juga tahu, bodoh.. kau kan hanya membaca labelnya.” Zelo hanya menatapku sambil tertawa kecil dengan tangan mengelus tengkuknya pelan.

“Coklat?” gumam Zelo sambil memandangku saat kami berdua berpandangan setelah menyesap wine barusan.

Aku menyesap wineku dan menemukan sensasi pekat dari manisnya coklat dan anggur secara bersamaan. Wine yang tidak terlalu pahit namun terlalu manis untukku. Saat aku kembali meminum wine ini agar lebih jelas.

Aku menemukan sebuah bayangan Hyo Hee yang tersenyum manis padaku. Bahkan aku bisa mencium wangi manis dan segar yang menguar dari tubunya seperti bunga fleur de lisa atau biasa dikenal dengan nama lily.

Deg!!

“W— what?” Oke, Tuhan aku punya satu pertanyaan kenapa akhir-akhir ini aku selalu membayangkan Hyo Hee jika sedang mencicipi wine?

“Kenapa hyung?” Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. “Ah! aku hampir lupa.. Ini ada pesan yang terselip.”

Ni shi wo de xing fu ma?
(Kaukah kebahagiaanku?)
_S.H.H_

“Pft.. Hahahahaha..” Tanpa sadar aku tertawa keras menatap secarik kertas ini. Zelo yang pada dasarnya tidak mengerti bahasa mandarin menatapku dengan bingung. Sial~ aku melupakan sesuatu.

“Sekarang tanggal berapa?”

Zelo merogoh sakunya dan menatap handphonenya. “14 Februari.”

Jawaban Zelo malah membuatku semakin keras tertawa. S.H.H. Kalau aku boleh menebak itu pasti inisial Song Hyo Hee kan?

“Ya Tuhan! Sekarang berarti valentine kan hyung?” tanya Zelo sambil membulatkan matanya. “Jangan bilang ini hadiah valentainemu hyung?!” serunya dengan bersemangat. “Siapa yang memberikannya hyung??” 

“Aku”

Sontak aku dan Zelo menatap gadis yang baru saja menutup pintu. Baru kali ini aku tertarik dengan gadis yang buta fashion dengan rambut panjang berwarna pirang yang terkesan sederhana. Padahal dia artis kan? Tapi toh nyatanya kesederhanaannya malah membuatku jantungku sering berjumpalitan dengan tidak menentu.

Aku tahu wajahku memerah dan dengan langkah cepat aku mendekatinya.

Xing fu de kai shi jiu shi— (awal dari kebahagiaan adalah..)” dia menatapku dengan lekat saat aku masih berjalan mendekatinya. “Ni de cun zai (keberadaanmu)… Xin ling gan ying de fang xiang (arah perasaan hatimu)” saat aku sudah berdiri dihadapannya aku menemukan tubuhnya yang tegang.

“Hah?”

Ni zheng zai kan wo (kau menatap ke arahku..)” aku menemukan Hyo Hee tergagap saat aku berdiri dihadapannya. Aku menundukkan sedikit tubuhku agar wajahku tepat berhadapan dengan wajahnya. “Maka­zhiyao kanzhe ni.. (aku hanya akan melihatmu..)

Satu kecupan aku berikan padanya. Lembut dan singkat namun terasa manis. Tubuhnya mematung saat aku memeluknya.

“Bernafaslah..” bisikku saat aku merasakan dia menahan nafasnya karena kaget.

“Tao..” bisiknya. Aku bisa merasakan deru nafasnya di dadaku. Bahkan aku bisa merasakan degup jantungnya.

“Hm?”

“Kalau boleh jujur.. aku..”

“Ya?”

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan.”

Hening..

“BUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA—“ hingga akhirnya terdengar suara Zelo yang menggema membuatku tersadar. Aku melepaskan pelukanku dan mencekram bahunya.

“Maaf..” ujar Hyo Hee dengan wajah ketakutan karena aku menatapnya dengan tajam. “Pesan yang aku berikan padamu itu dari judul lagu.”

Aku menepuk dahiku dengan keras. Astaga~ Tuhan.. Bunuh aku sekarang juga.. eh! Jangan deh..

Dia masih menundukkan kepalanya saat tanganku kembali melingkar dipinggangnya. Suara kekehan kecilku membuatnya mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan takut.

“Apa aku adalah kebahagiaanmu?”

“Eh?” mendadak dia menjadi salah tingkah didekapanku.

“Aku tidak tahu jawabannya tapi— apa kau mau mencoba mencari tahunya?”

Flash back : off
~~

Author pov~

Dengan susah payah supir taxi itu mengeluarkan barang-barang yang dibawa Tao dan Hyo Hee. Satu bulan merupakan waktu yang cukup lama untuk berlibur maka mereka memang harus membawa banyak perlengkapan setidaknya untuk tubuh mereka sendiri.

Jangan lupa mereka juga penggemar merk Gucci. Pasangan fashionable. Yang satu tuntutan karir karena seorang artis yang satunya lagi memang karena tuntutan hati. Jadi jangan heran kalau melihat seorang Hwang Zhi Tao mengkritik pakaian kekasihnya sendiri.

Suara deru ombak dan aroma asin laut membuat Hyo Hee menampakkan senyum merekah. “Aku tidak tau Qingdao merupakan daerah pesisir pantai?” ujarnya dengan bersemangat.

Tao hanya tertawa saat melihat kekasihnya tiba-tiba menjadi hiperaktif. Hyo Hee hanya mengikuti langkah kaki Tao yang menyeret tasnya sambil menatap sekeliling. Dia menatap sebuah bangunan tua yang besar dengan terperangah.

“Ini tempat apa?”

“Ah~ ini tempat pembuatan beer.. beer Qingdao merupakan beer yang paling terkenal di daratan Tiongkok. Saat musim panas sering diadakan festival beer Qingdao disini.”

“Beer?”

“Yup!”

“Pantas saja..” gumam Hyo Hee yang sebenarnya tidak dihiraukan Tao walau pun terdengar jelas. Semua orang pasti akan mengatakan pantas saja Tao bisa menjadi sommelier handal tempat asalnya saja sudah terkenal dengan beernya.

Kini mereka berdua berdiri di depan pagar yang cukup tinggi, dikelilingi beberapa pohon kelapa dan beberapa tumbuhan yang bisa hidup di iklim samudra. Daerah ini selalu hangat saat musim dingin dan sejuk saat musim panas.

Hyo Hee sebenarnya cukup heran menatap rumah ini. Baru saja dia melihat banyak rumah-rumah saling berdempetan. Sekarang dia malah menemukan rumah yang kokoh seolah raja di daratan Qingdao.  Semua orang jelas tahu China itu terkenal dengan kepadatan penduduknya.

“Ini rumah siapa?”

“Rumahku,” ujar Tao santai sambil memencet bel.

“Hah?!”

“Ini kejutan yang akan aku tunjukan padamu,” ujar Tao sambil melingkarkan lengan kanannya dipinggang ramping Hyo Hee. Entah kenapa Tao yakin kalau gadis ini akan kabur. “Aku akan mengenalkanmu pada keluargaku.”

“APA?!” pekik Hyo Hee dengan keras.

Hahahahahahahaha.. menurut Tao, hidup memang indah jika bisa memberikan kejutan pada keluarganya dan kekasihnya sendiri dalam waktu bersamaan. -____-“ #CHAYO!!

Oh, takkan ku lepaskan
Dirimu oh, cintaku
Teruslah kau bersemi
Di dalam lubuk hatiku

END.OVER
~~


Okeh sayah mau jujur dulu ini ff hasil remake ff yaoi 2MIN : VONE ROMANEE '01 tahun 2012. Buat beberapa keterangan tentang wine sayah dapet dari The Drops of God yang ilustrasinya keren abis sama beberapa blog yang sayah comot infonya.

Nb, gambar supaya kalian ngeh benda-bendanya, buat tahun pembuatan mungkin beda tapi botolnya sama kok.. 

posted under , | 0 Comments
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

In time

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

My world

Tentang semua pemikiran yang terkadang nyeleneh, gak guna tapi berkesan.

Tentang semua yang ditangkap mata, didengar telinga, dan dirasakan oleh anggota tubuh mengenai peristiwa yang ada disekitar.

Bukan hal yang berbobot tapi cukup berguna untuk dipikirkan
.

Recent Comments